Page 146 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 146

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   Pengeluaran untuk keperluan kesehatan, sanitasi, termasuk
               untuk mandi dan merawat diri, pendidikan, transportasi, berki-
               rim surat, upah pembantu rumah tangga, olah raga dan rekreasi,
               hanya ada pada golongan mandor dan teknisi. Justru untuk
               kepentingan agama (selamatan), kewajiban sosial, dan amal,
               kelompok miskin itu menghabiskan 90% dari pengeluaran lain-
               lain mereka.
                   Sekitar 60-70% pengeluaran pangan kelompk kuli dan
               petani miskin adalah untuk membeli beras. Jika menginginkan
               membeli daging dan sumber protein lain semisal mentega, gula,
               teh dan kopi, maka jatah untuk membeli beras menjadi berku-
               rang. Pekerja yang menetap lebih banyak mengonsumsi daging
               dibanding lainnya yang hanya makan sayuran dan rempah-rem-
               pah.
                   Rata-rata konsumsi anggota rumah tangga kuli yang tidak
               menetap, termasuk jika ada selamatan adalah 1.282 kalori; kuli
               pabrik tidak menetap mengkonsumsi 1.399; dan petani lokal
               mengkonsumsi 1.391. Namun angka ini berbeda-beda di bebe-
               rapa tempat. Untuk Jawa Barat, angka rata-rata konsumsi kalori
               adalah paling tinggi dan Jawa Tengah berangka paling rendah. Di
               perkebunan gula, tenaga kerja paksa yang tidak menetap, kon-
               sumsi kalori perhari termasuk ketika ada acara selamatan adalah
               959 kalori, berbeda dengan petani setempat yang 1.159 kalori.
               Satu kasus perkebunan gula di Jawa tengah ditemukan angka
               652-894.
                   Konsumsi protein sangat menentukan angka kalori itu.
               Konsumsi protein rata-rata harian adalah 50-60 gram (mendekati
               1¾ hingga 2 ons) bagi mereka para mandor, teknisi, dan kuli
               yang   menetap.   Kuli  yang   tidak  menetap   dan   petani



               dipenuhi melalui aktivitas dan perolehan mereka di pertanian/desa. Sehingga
               tepat jika dikatakan bahwa pertanian mensubsidi (perusahaan) perkebunan.
               Bandingkan dengan analisa Clifford Geertz yang justru melihat fenomena petani
               dengan “kakinya yang sebelah tertancap di lumpur sawah, yang sebelah lagi
               menginjak lantai pabrik” untuk menunjukkan terbukanya peluang bekerja di
               perusahaan perkebunan, dan secara umum sistem kapitalisme Barat yang
               menurutnya tidak banyak mempengaruhi kondisi petani Jawa.
                                                                         93
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151