Page 152 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 152

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               wong gede bukan hanya disebabkan faktor kepemilikan kekayaan,
               sehingga dengan itu menjadikan wong gede superior dan wong cilik
               inferior, namun lebih menjadi persoalan objektifikasi “kelompok
               atas” terhadap “kelompok bawah” yang memungkinkan pembe-
               daan sosio-kultural dilakukan. 34
                   Lantas seperti apa imajinasi sosiologis 35  Soekarno tentang
               wong cilik dalam masyarakat Indonesia? Setidaknya dalam 3 tuli-
               san yang terhimpun dalam buku Dibawah Bendera Revolusi (“Mar-
               haen dan Marhaeni”, “Marhaen dan Proletar”, dan “Mentjapai
               Indonesia Merdeka”), Soekarno menjelaskan siapa wong cilik itu.
               Ia menyebutnya dengan istilah Marhaen, suatu nama yang diam-
               bilnya dari seorang petani bernama Marhaen yang dijumpainya
               di Cigelereng dekat Bandung. 36  Petani itu mengolah lahan sempit
               yang dimilikinya sendiri, melarat tetapi bukan proletar sebagai-
               mana dalam istilah Marxis.
                   Imajinasi wong cilik Soekarno melalui “pengalaman berte-
               munya” ia dengan Marhaen mengkonfirmasi pemahamannya
               tentang struktur kelas pedesaan yang berasal dari Karl Kautsky. 37
               Berbeda dengan pendirian Lenin yang mengatakan bahwa proses
               kapitalisme di pedesaan akan menghilangkan kelas petani di
               pedesaan (de-peasantization), Kautsky berpendapat bahwa yang
               terjadi adalah peminggiran masyarakat tani (peasantry) dan bu-
               kannya lenyap sama sekali. 38  Marhaen yang dijumpai Soekarno
               adalah petani yang bukan “tanpa alat produksi sama sekali”
               sebagaimana proletar-Marxis, namun masih “memiliki dan meng-
               usahakan tanah yang sempit”.




                   34  Arif Aris Mundayat, Ibid.
                   35  Tentang bagaimana massa “dibayangkan” dan “didistorsi” secara
               epistemologis dalam ilmu sosial, lihat W. F. Wertheim, Elite Perception and The
               Masses, Department  of South and Southeast Asia Kajianes, Sociology and
               Anthropology Center, Amsterdam University, 1984
                   36  Nama Marhaen tidak lazim digunakan oleh orang Sunda, kecuali jika
               benar bahwa nama itu hasil kreasi Soekarno, akronim dari Marx, Hegel, dan
               Engels.
                   37  Ben White, op.cit., hal. 112.
                   38  Gunawan Wiradi, op.cit., hal. 121.
                                                                        99
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157