Page 156 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 156
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Indonesie 1 karangan Rutgers membawa alam baru tentang bebe-
rapa segi dari sejarah Indonesia”. 49
Dengan uraian di atas dapat dinyatakan bahwa akar-akar
historiografi Indonesiasentris semula lebih kuat dorongan “ima-
jinasi sosiologisnya” (yakni tentang siapa yang seharusnya dina-
rasikan dalam sejarah) daripada “metode eksplanatif” (multi-
dimensi ilmu sosial), “penggunaan sumber” (non-filologis), dan
“aspek”-nya (non-politik). Rintisan ke arah itu mula-mula
dikecambahkan oleh mereka, diakui atau tidak, para “sejarawan”
yang berperspektif “Marxis-Komunis”.
C. Kajian Agraria Indonesia Pasca-Kemerdekaan
Kajian Agraria Indonesia pasca kemerdekaan dapat dika-
takan tumbuh subur seiring dengan semangat dekolonisasi sistem
penguasaan sumber daya agraria di Indonesia. Berbagai kajian
oleh pelaku yang beragam memberi gambaran bertemunya ranah
kajian dengan gagasan pembaharuan baik dari pihak pengambil
kebijakan maupun gerakan rakyat.
Secara khusus, sejak tahun 1945 ada tiga rintisan sosiologi
50
agraria di Indonesia . Ketiga rintisan itu muncul dari lembaga
yang terkategori dalam perguruan tinggi, jawatan atau lembaga
pemerintah, dan organisasi masyarakat tani atau organisasi
politik. Lembaga rintisan dalam kategori itu telah dipaparkan
oleh Kampto Utomo. Di antaranya adalah: Sosiografi Indonesia-
UGM, riset di UI, IPB, dan Universitas Padjajaran; Kantor
49 Ibid., hal. 178. Penekanan dari penulis (ANL).
50 Sosiologi agraria atau sosiologi pedesaan menurut Kampto Utomo adalah
ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk dan proses-proses kelompok sosial dan
masyarakat pedesaan dan pertanian, dengan senantiasa menyadari tidak
terpisahnya tinjauan menyeluruh atas masyarakat bangsa, hubungan timbal-balik
dengan masyarakat pedesaan dan sektor non-pertanian. Kampto Utomo,
“Research Sosiologi Pedesaan di Indonesia, 1945-1965”, dalam Sadikin
Soemintawikarta (Ed.), Research di Indonesia, 1945-1965, Bidang Pertanian (III)
(Jakarta: Departemen Urusan Research Nasional Republik Indonesia, 1965), hal.
267.
103

