Page 167 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 167

Ahmad Nashih Luthfi


                   Oleh banyak kalangan, karya itu dinilai berpengaruh karena
               merupakan karya sosiolog pertama Indonesia. Meski demikian,
               karya itu mewakili apa yang oleh W.F. Wertheim disebut sebagai
               “visi elitis”. Seorang “elite” memandang massa rakyat sebagai ke-
               lompok yang terisolasi. 73

               7.  Karya dua Rektor IPB

                   Bachtiar Rifai adalah Rektor IPB sebelum periode Kampto
               Utomo. Keduanya menulis disertasi di bawah bimbingan Prof.
               W.F. Wertheim. Bachtiar Rifai menulis disertasi berjudul “Ben-
               tuk Milik Tanah dan Tingkat Kemakmuran: Penyelidikan Pe-
               desaan di daerah Pati, Jawa Tengah” (1958). Sementara Kampto
               Utomo menulis “Masyarakat Transmigran Spontan di Daerah
               W. Sekampung (Lampung)” (1957).
                   Disertasi Kampto Utomo memberi uraian sosiologis-antro-
               pologis tentang masyarakat tani perintis di Sumatera Selatan
               (Lampung). Pada mulanya mereka datang ke lokasi tujuan me-
               lalui program pemerintah, namun selanjutnya secara spontan
               pergi ke daerah baru yang mereka buka. Daerah baru ini kemu-
               dian menjadi “desa Jawa” yang mengembangkan satuan desa
               sebagaimana di Jawa (terhubungnya desa dengan kecamatan).
                   Dikaji pula hubungan genealogis antara masyarakat asli
               lampung dengan ikatan kekerabatannya yang kuat dan masya-
               rakat Jawa yang kurang ketat ikatan kekerabatannya. Pola usaha-
               tani yang dibangun oleh petani perintis itu, meski mulanya
               mengalami dilema, adalah pola kebun tanaman keras (karet, ko-
               pi, dan lada). Sementara pola “sawah irigasi” sangat terbatas pe-
               luangnya. 74
                   Pendekatan yang lebih bernuansa antropologis (tepatnya
               antropologi sosial) dalam kajian Kampto Utomo cukup mem-
               punyai alasan. Saat itu bahan-bahan yang dianggap “baku”



                   73  W. F. Wertheim, 1984, op.cit., Bab II.
                   74  Sajogyo, “Refleksi Sajogyo: Dari Praktek ke Teori dan ke Praktek yang
               Berteori”, naskah refleksi pada sebuah acara yang diadakan oleh Survey Agro
               Ekonomika di Jakarta, 2004, hal. 7-8.
               114
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172