Page 172 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 172

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   BTI merupakan organisasi massa yang pendiriannya mencer-
               minkan semangat revolusi saat itu. Para pemimpin mulai mera-
               sakan kebutuhan keterlibatan mayoritas penduduk di pedesaan.
               Pendirian organisasi massa tani semacam BTI dirasakan sangat
               mendesak. Dari segi keanggotaan, pada mulanya pengaruh BTI
               terbatas pada wilayah perkebunan-perkebunan. Namun dalam
               perkembangannya ia memperoleh pengaruh yang luas. Dalam
               menarik simpati massa, para pemimpin BTI mendekati Sri
               Sultan Hamengku Buwana IX.  88
                   Historiografi Indonesia yang mengidentikkan BTI dengan
               PKI tidaklah dapat dibenarkan, setidaknya untuk periode awal.
               Para pendirinya adalah kaum moderat dan sosialis yang waktu
               itu telah cukup kuat berada di Yogyakarta. Mereka mempunyai
               ikatan kuat dengan para pemuda Pathuk dan menjalin hubungan
               dengan Sjahrir pada waktu Jepang berkuasa. Sementara PNI dan
               PKI justru muncul belakangan di Yogyakarta. 89
                   BTI, yang dipimpin oleh S. Sardjono (Ketua) dan Moch.
               Tauchid (Ketua Bagian Ssosial Ekonomi), mempunyai pengaruh
               besar terhadap penyusunan birokrasi pemerintahan Yogyakarta
               pasca-merdeka. Ketika melangsungkan konferensi tanggal 27-28
               Oktober 1945, mereka mengajukan mosi kepada pemerintah agar
               segera dibentuk DPR di setiap kelurahan hingga pusat, dan
               tuntutan perbaikan nasib kaum tani yang diwakilinya, yang di
               Yogyakarta menurutnya mencapai jumlah 1,5 juta. 90
                   Dari sini tampak bahwa kemerdekaan merupakan peluang
               baru (jembatan emas) dalam merumuskan identitas kebangsaan,
               penguatan terhadap kewarganegaraan (citizenship) kaum tani dan
               hak-haknya, dan bahkan kekuatan organisasi massa-lah (dalam



                   88  Andi Achdian, op.cit., hal. 38.
                   89  P.J. Suwarno, op.cit., hal. 203.
                   90  Ibid. Angka sebesar itu tampaknya lebih memberi makna pada kekuatan
               semangat dari pada ketepatan numeriknya. Sebab, sampai dengan tahun 1953,
               ketika BTI telah menjadi organisasi massa yang berafiliasi dengan PKI, anggota
               yang diklaimnya hanya mencapai 360.000 dan baru meningkat secara pesat
               setelah pemilu 1955 (3,3 juta). M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 1200-
               2004 (Jakarta: Serambi, 2008), hal. 493.
                                                                        119
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177