Page 174 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 174
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
kolektif atas tanah. Sementara BTI memegang prinsip kepemili-
kan pribadi. 94
Menurut BTI, perjuangan kaum tani atas tanah tidak lain
adalah perjuangan untuk mendapat tanah milik pribadi. Namun
pada tahun 1953, kedua organisasi massa tersebut (BTI dan RTI)
bersama Sarekat Tani Indonesia (Sakti) melakukan fusi. Nama
BTI yang kemudian dipertahankan dalam fusi tersebut. Fusi
berlangsung pada Kongres BTI yang diadakan di gedung sarekat
buruh kereta api, Manggarai, Jakarta. Pada periode inilah BTI
identik dengan PKI, sebab organisasi massa tani ini telah bera-
filiasi dan dikuasai partai komunis tersebut. Namun uniknya,
perinsip kepemilikan pribadilah yang dipertahankan. 95
Akibat fusi tersebut, Moch. Tauchid bersama kawan-kawan
sosialisnya yang ada di BTI memutuskan keluar. 96 Mereka bukan
hanya tidak setuju dengan fusi itu, akibat dari pertentangan la-
ma kelompok komunis dan sosialis pasca peristiwa Madiun, 97
94 Dalam tulisan “Hari Depan Perjuangan Tani”, D.N. Aidit mengkritik BTI
yang berjuang dengan tuntutan “hak negara terhadap semua tanah”. RTI lalu
memodifikasinya menjadi semboyan “nasionalisasi semua tanah”. Menurut Aidit,
program agraria dengan menempatkan negara sebagai pemilik hak belum
dimengerti kaum tani, sehingga gagal membangunkan semangat pergerakannya.
Maka menurutnya, semboyan yang tepat adalah, “tanah untuk kaum tani”,
sehingga lebih menarik bagi kaum tani. Noer Fauzi, op.cit., hal. 133-134.
Kemungkinan besar, kritik Aidit muncul setelah RTI (bukan BTI), pada awal
1950-an, melakukan lawatan ke Cina untuk merayakan kemenangan Mao Tse
Tung (1949). Di sana mereka dipersalahkan karena prinsip kolektifnya itu.
Menurut Mao, kemenangan Revolusi Tiongkok justru disebabkan partisipasi
kaum tani yang ingin mendapatkan tanah. Dengan demikian, sasaran kritik Aidit
sebenarnya adalah unsur-unsur komunis yang memang sejak awal telah ada di
dalam BTI. Mereka ini memegang prinsip kepemilikan kolektif dan mendapat
tentangan dari Moch. Tauchid. Wawancara dengan Imam Yudotomo,
Yogyakarta, 6 September 2009.
95 Wawancara dengan Imam Yudotomo, Yogyakarta, 13 Agustus 2009.
96 Andi Achdian, op.cit., hal. 40. Bandingkan, Imam Yudotomo, Kakung-
Uti..., op.cit., hal. 13.
97 Berbagai krisis yang terjadi di Yogyakarta antara kelompok Sjahrir, Amir
Sjarifuddin, dan Tan Malaka antara tahun 1946-1948 menempatkan BTI pada
posisi sulit. Ia dan Wijono sebagai pimpinan BTI menolak Persatuan Perjuangan
(PP) Tan Malaka dan “Minimum Program”-nya, sekaligus berseberangan dengan
Amir dalam peristiwa Madiun. Lihat, Ben Anderson, op.cit., hal. 349. Akibat
peristiwa madiun, Moch. Tauchid sebagai Ketua BTI ditangkap dan dipen-
121

