Page 177 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 177
Ahmad Nashih Luthfi
kedaulatan dan penguasaan lahan justru dinilai langkah mundur
dan memutus proses dekolonisasi yang sedang dilakukan. 106
Akibat dari diserahkannya kembali perkebunan-perkebunan
besar yang telah diduduki rakyat kepada pemegang haknya
semula, yaitu kaum modal swasta Belanda, maka sasaran atau
obyek landreform sebagai isu populis tahun 1960-an bergeser ke
wilayah pertanian. Jika agrosistem perkebunan mengkonstruksi
isu landreform dalam relasi vertikal antara rakyat dengan pemilik
perkebunan swasta (yang sebelumnya difasilitasi oleh negara),
maka agrosistem pertanian mengkonstruksikan konflik sosial-
horisontal di pedesaan. Suatu perubahan politik nasional yang
dampaknya demikian buruk bagi tatanan kehidupan rakyat di
lokal pedesaan. Terbukti bahwa Aidit dkk. dengan rumusan
“tujuh setan desa”-nya telah mengakibatkan konflik horizontal
yang luar biasa.
Tauchid juga mengajukan mosi menolak kebijakan Padi
Sentra yang di antaranya berisi pembelian padi “secara paksa”
oleh pemerintah guna memenuhi cadangan pangan. Pemerintah
mengharuskan petani menyerahkan 20% hasil panennya agar
dibeli oleh pemerintah dengan harga separuh dari harga pasar. 107
Di bukunya yang lain, Perjuangan Petani, 108 Moch. Tauchid
lebih menekankan perjuangan nasib tani pada konstruksi sosial
dan aspek kulturalnya, dan bukan pada perjuangan ekonominya.
Dlam buku itu ia menggugat, “mengapa kaum tani yang memberi
makan pada umat manusia di semua penjuru dunia, posisi sosial
106 Ulasan tentang bagaimana perjanjian KMB menjadikan langkah mundur
bagi proses dekolonisasi dan restrukturisasi penguasaan sumber-sumber agraria,
dan dampaknya bagi sasaran landreform disinggung juga di dalam buku Moch.
Tauchid ini. Pasal-pasal perjanjian dapat disimak dalam Lampiran VII-IX.
Bandingkan dengan ulasan Gunawan Wiradi, “Politik Pertanian dari Masa ke
Masa”, makalah disampaikan dalam acara “Workshop Pertanian YLBHI” ber-
tema Tantangan dan Masa Depan Pertanian, di Hotel Seruni, Cisarua, tanggal 2
Mei 2005, 13 hal.
107 Imam Yudotomo, Kakung-Uti..., op.cit., hal. 13.
108 Sayangnya penulis tidak mendapatkan buku tersebut. Informasi ten-
tangnya didapatkan dari wawancara, Imam Yudotomo, op.cit. Saat wawancara
dilakukan, buku yang dimaksud juga belum ditemukan.
124

