Page 179 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 179
Ahmad Nashih Luthfi
tani dalam hal produksi, yakni pengadaan bibit, dilakukan de-
ngan cara mengintegrasikan kedalam struktur dan dinamika desa.
Usaha pengadaan bibit sekaligus adalah pengorganisasian desa.
Ketiga, kaum tani adalah warga negara (citizen), dengan
segenap haknya. Pendidikan dan kursus kader (tingkat
kabupaten hingga desa), dilakukan dalam upaya tidak hanya
meningkatkan “keterampilan” bertani, namun penyadaran akan
makna sebagai warga negara. Materi yang diusulkan dalam
kursus kader di antaranya adalah: tata negara, sejarah pergerakan
nasional, ilmu jiwa dan masyarakat (sosiologi), pergerakan kaum
tani, pergerakan buruh, ekonomi pertanian, hak atas tanah,
kelaskaran, praktek kerja, dan juga pengetahuan tentang budida-
ya pertanian.
Menelisik kembali berbagai kajian agraria Indonesia (kajian
struktur agraria, sejarah agraria, kemiskinan pedesaan, pemba-
ngunan pedesaan, reforma agraria, termasuk sejarah gerakan tani-
nya) menyadarkan kembali pentingnya memperkuat bangunan
kewarganegaraan rakyat Indonesia dengan segenap hak-hak kons-
titusional mereka. Bangunan kewarganegaraan Indonesia semesti-
nya tidak hanya didasarkan pada keenekaragaman horisontalnya
(ras, identitas, etnis, agama, dan sebagainya), namun dengan se-
nantiasa menyadari bahwa pada masing-masing entitas itu terda-
pat keanekaragaman vertikalnya. Masyarakat pertanian pedesaan
sebagai mayoritas dari warga negara Indonesia, dengan menya-
dari pengelompokan vertikal yang ada di dalamnya, semestinya-
lah menjadi perhatian di dalam mengkonstruksi arti kewargane-
garaan Indonesia.
Agraria sebagai ranah gerakan yang memperjuangkan natural
resources (tanah, air, dan udara) adalah ruang kontestasi dalam
memberi arti baru bagi citizenship, dan dengan demikian, pengua-
tan bangun kebangsaan dan kenegaraan Indonesia.
negara, dengan segenap “kewajiban-kewajiban” yang harus ditanggung. Nasib
organisasi tani jika tidak mau terancam direpresi negara karena sikap
oposisionalnya, maka pilihannya adalah sebaliknya: menjadi oportunis!
126

