Page 181 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 181
Ahmad Nashih Luthfi
Bab ini menyajikan tokoh-tokoh yang dinilai bersifat exem-
plary (teladan) dan rintisan dalam studi pembangunan pedesaan,
terutama pada masa Orde Baru. Mereka adalah Prof. Dr. Ir.
Sajogyo dan Dr. HC. Gunawan Wiradi, M. Soc. Sc. Dua tokoh
ini merupakan perintis dari kelompok yang kemudian dikenal
sebagai “Mazhab Bogor”. Nama pertama dikenal sebagai peletak
dasar studi sosiologi pedesaan Indonesia, sementara yang kedua
sebagai guru studi (Reforma) Agraria.
Bab ini menguraikan biografi mereka, genealogi pemikiran,
spektrum gagasan dan pengaruhnya, dan posisi keduanya dalam
semesta studi pembangunan pedesaan dan agraria Indonesia
khususnya, dan ilmu sosial Indonesia umumnya. Terlebih dahulu
disajikan bagaimana sosok dan pemikiran Prof. Dr. Ir. Sajogyo.
Pada tanggal 28 Juni 2008, Kompas memberi penganu-
gerahan kepada Prof. Dr. Ir. Sajogyo sebagai “Cendekiawan
Berdedikasi”. Saat itu, beliau bersama keempat cendekiawan
lainnya, Prof. Dr. Soetandyo Wignyosoebroto, Dr. Thee Kian
Wie, Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, SH., disebut telah “mendedi-
kasikan intelektualitas dan komitmennya untuk mencerahkan
2
masyarakat, kehidupan yang lebih adil dan demokratis”. Me-
minjam istilah Gramsci, mereka adalah ilmuwan yang tidak
berdiam di wilayah amannya dengan berada di atas menara ga-
ding, namun memihak kelas atau kelompok tertentu. 3
Sebagai bentuk apresiasi bagi beliau, juga diturunkan tulisan
berjudul “Seorang Empu Pemerhati Desa” oleh Tempo, Edisi 30
Juni-06 Juli 2008. Di tengah keriuhan berbagai isu yang menerpa
bangsa Indonesia, Sajogyo tetap konsisten dengan perhatiannya
pada pertanian dan pedesaan, persoalan yang telah lama diing-
kari oleh negara agraris ini. Setidaknya terhitung sejak 1955, ta-
hun ketika ia mulai mengajar di Fakultas Pertanian UI (IPB kini)
hingga sekarang, ia tetap konsisten menggeluti isu tersebut.
2 “Cendekiawan Berdedikasi”, Kompas, Jumat 27 Juni 2008.
3 St. Sularto, “Cendekiawan Berkomitmen”, Kompas, Jumat, 27 Juni 2008.
128

