Page 185 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 185

Ahmad Nashih Luthfi


               belajar dari D. H. Burger, seorang ahli birokrasi Hindia Belanda
               dan politik. Dari Ir. Terra (ahli pekarangan) ia belajar tentang
               “studi etnologi”, di mana Terra menyoroti tipe usaha tani pekara-
               ngan yang dikaitkan dengan pola “matriarkal”, dan sebaliknya
               pola “lahan rumputan” yang jauh dari rumah sebagai pola “patri-
               arkal”. Darinya juga Kampto Utomo belajar tentang masalah gizi
               dan sumbangan “hasil holtikultura” bagi pola makanan rakyat.
                   Dosennya yang lain, Van Aartsen, memberinya pemahaman
               tentang geografi ekonomi dalam konteks perekonomian dunia.
               Bloembergen (ahli botani) mengajarinya tentang “geografi tum-
               buhan”. Ia dalam kuliahnya dituntut menulis laporan studi pus-
               taka dan lapangan, sehingga mengharuskannya menjelajahi pulau
               Jawa, dari barat sampai ke timur, termasuk Kepulauan Seribu.
               Prof. Timmer (lulusan Fakultas Pertanian Wageningen) yang me-
               nulis “agronomi sosial” memberinya pemahaman yang lebih so-
               siologis. 10
                   Dalam iklim dan spektrum kajian semacam itulah, Kampto
               Utomo mempelajari relasi antara natura dan humana. 11  Mempe-
               lajari pertanian di kampus itu menyadarkan pentingnya hubu-
               ngan antara unsur-unsur alam dan manusia. Unsur pertama
               melahirkan ilmu eksakta dan unsur kedua menciptakan ilmu so-
               sial dan humaniora. Keduanya dalam batas-batas tertentu dipela-
               jarinya di kampus itu. Maka tak ayal dalam perkembangannya
               kemudian, Sajogyo terkenal dengan semboyannya, “Jika Anda i-
               ngin mengerti perekonomian negeri kami, kajilah kebudayaan
               dan sistem politik kami; jika ingin memahami kebudayaan dan
               sistem politik kami, kajilah perekonomian kami”. 12


                   10  Sajogyo, “Refleksi Sajogyo: dari Praktek ke Teori dan ke Praktek yang
               Berteori” (versi Januari 2004), refleksi pada sebuah acara yang diadakan oleh
               Survey Agro Ekonomika di Jakarta, 2004, hal. 4-5 (versi Januari 2004). Naskah
               refleksi ini diterbitkan kembali dalam Sajogyo, Ekososiologi, Deidologisasi Teori,
               Restrukturisasi Aksi (Petani dan Pedesaan Sebagai Kasus Uji), (Francis Wahono
               [Ed.]) (Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, bekerjasama dengan
               Sains, dan Sekretariat Bina Desa, 2006).
                   11  Francis Wahono, “Pendahuluan: Teori Terbentuk karena Aksi”, dalam
               Sajogyo, 2006, op.cit., hal. 3.
                   12  D. H. Penny, Hints for Research Workers in the Social Sciences, dikutip dari
               Sajogyo, “Refleksi…”, Ibid., hal. 1. Kalimat asli kutipan tersebut adalah, “If you
               132
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190