Page 187 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 187
Ahmad Nashih Luthfi
Pengalaman mendampingi penelitian H ten Dam di Cibodas
semasa kuliah Sajogyo ini memberinya perhatian pada lapisan
paling bawah dalam masyarakat tani. Jika aliran Tim MIT dalam
dekade yang sama memunculkan nama samaran Mojokuto de-
ngan pendekatan antropologi interpretatif ala Clifford Geertz,
maka kelompok H ten Dam ini memunculkan nama desa Cibo-
das tanpa embel-embel nama samaran, melalui pendekatan sosio-
logis. Desa itu bisa dikunjungi sesuai dengan nama aslinya se-
hingga realitas diferensiasi sosial sebagaimana yang digambarkan
dalam penelitian itu dapat dikonfirmasi langsung ke lokasi ter-
sebut. Sementara strategi “pseudonym” mengandung resiko bah-
wa realitas yang digambarkan adalah rekonstruksi “di atas ker-
tas” terlebih dengan pendekatan interpretatif yang mengandung
bias subyektif peneliti. Selain itu, temuan riset dengan gaya tera-
khir ini jarang dan sulit untuk memberi efek politik dan kebija-
kan, sebagaimana yang diharapkan dalam riset-riset sosiologi. Sa-
yang sekali nama Cibodas kalah populer dibanding nama “Mojo-
kuto” dalam sejarah ilmu sosial (antropologi) Indonesia. Ia men-
jadi socially and politically insensible dalam wacana ilmu sosial.
W. F. Wertheim mengulas lebih tajam hasil penelitian Cibo-
das ini. Jika hasil Tim MIT menyajikan kecenderungan yang sa-
ma: meremehkan signifikansi perbedaan kelas; maka hasil riset
Cibodas telah mampu menunjukkan perbedaan tajam antara dua
kategori: petani independen dan buruh tani. Sekitar 13% petani
menguasai lebih satu hektar tanah atau 83% dari total kepe-
milikan tanah di wilayah itu. Sementara buruh tani yang berjum-
lah 87% dari populasi menguasai 18% lahan. Program koperasi
dan penyuluhan dengan berbagai paket bantuannya tidak
menjangkau mayoritas massa ini. Massa terbesar ini tetap “dalam
kegelapan”. Menyikapi program pemerintah yang ada, massa
rakyat ini mengungkapkan dengan istilah “melarang melulu”. 16
Dalam kegiatan kemahasiswaan, Kampto Utomo aktif di
Masyarakat Mahasiswa Bogor (MM[B]). Dalam kenangan
16 W. F. Wertheim, Elite vs Massa (Yogyakarta: Resist dan LIBRA, 2009),
hal. 93-94.
134

