Page 192 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 192

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               Pertanian. Ia juga tidak pernah diajak berunding mengenai
               pencalonannya itu. Sehari sebelum penentuan sebagai rektor, ia
               baru diajak rapat. Saat itu yang dicalonkan adalah Prof. Dr.
               Thoyib Hadiwidjaja, Prof. Dr. Bachtiar Rivai, dan Prof. Dr.
               Kampto Utomo. Saat namanya diajukan ke presiden, tidak ada
               yang mengenalnya, sehingga membuat presiden ragu. Sampai
               kemudian seorang jenderal bernama Sukindro mengatakan bah-
               wa ia mengenalnya. Akhirnya Presiden Soekarno bersedia
               menandatangani surat keputusan itu. Struktur kepemimpinan
               rektor saat itu mengikuti gaya Hindia Belanda, yakni adanya
               seorang jenderal berada di atas posisi rektor. Jenderal Sukindro
               inilah yang menduduki posisi itu. 28
                    Selama menjadi rektor yang hanya satu tahun, ada
               beberapa kebijakan yang dilakukannya, terutama terkait dengan
               persoalan manajemen kampus. Saat itu administrasi kampus
               dalam kondisi “morat-marit”. Ia menyatakan,

                   “Di satu pihak morat-marit, ada oposisi yang menguasai jual beli
                   fasilitas kampus, mobil dan sebagainya. Waktu ada rapat mereka
                   ini tidak hadir, hanya ada seorang, lalu saya skors. Diundang
                   pimpinan kok tidak datang. Wakil rektor saja tidak dari usulan
                   saya, tapi sudah ada disodorkan begitu saja, ‘Ini tim Bapak’,
                   disodorkan ke saya. Saya pernah mengajak pertemuan sampai jam
                   2 pagi. Padahal periode rektor sebelumnya malah jarang masuk.
                   Pakaian dinas masa saya warnanya biru abu-abu. Pagi pegawai
                   sudah dinas. Orang luar melihat, wah ini ada perubahan besar. Ini
                   kurang lebih satu tahun. Selama menjadi rektor yang saya lakukan
                   adalah menertibkan administrasi. Keuangan yang sempit sekali kok
                   ini malah  dipermainkan oleh  sekelompok orang.  Pentolan-
                   pentolannya ini kemudian mengundurkan diri. Mereka ini di
                   kepala-kepala  bagian,  bengkel  dan  sebagainya.  Ada  yang
                   menghilang tanpa pamit pindah ke Unpad. Bahkan ada yang
                   mengundurkan diri, tapi dari luar masih mengendalikan keuangan
                   di IPB.” 29





                   28  Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 16 November, 2008. Bandingkan,
               wawancara dengan Sajogyo oleh Eka Budianta, Tri Bangun Asih, Eko Cahyono,
               dan Dini Harmita, Bogor, 2 Juli 2008.
                   29  Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 16 November, 2008.
                                                                        139
   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197