Page 193 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 193

Ahmad Nashih Luthfi


                   Kebijakan lainnya adalah melanjutkan program BIMAS
               SSBM (Bimbingan Massal Swa-Sembada Bahan Makanan) yang
               sebelumnya telah dirintis pada tahun 1963. Dua tahun
               sebelumnya, kebijakan yang ia terlibat di dalamnya adalah
               penyebaran bibit padi pendek temuan IRRI dan penggunaan
               pupuk di tiga desa di kabupaten Karawang. Enam orang
               mahasiswa yang melakukan penelitian skripsi selama 6 bulan
               untuk melakukan penyuluhan, menginisiasi agar petani bersedia
               mencoba bibit dan pupuk tersebut. Hasilnya dinilai memuaskan
               sehingga petani bersedia menanam untuk musim berikutnya.
                   Keberhasilan   itu  mendorong    Departemen    Pertanian
               mengambil alih uji coba dari IPB dan menjadikannya suatu
               proyek nasional dengan pembiayaan dari departemen. Gagasan
               di balik program BIMAS adalah asumsi bahwa intensifikasi dan
               modernisasi tergantung dari alat, motivasi, dan tata cara teknis.
               Terlihat bagaimana ide modernisme sangat kuat dianut saat itu,
               bahkan beberapa dekade sebelumnya.
                   Mengenai awal gagasan BIMAS, Sajogyo menjelaskan, “Sejarah
                   BIMAS namanya Demas (Demonstrasi Massal). Sejumlah dosen
                   Agronomi, dengan 6 mahasiswa, melakukan uji coba di 100 hektar
                   sawah di Karawang, di tiga desa. Hanya ada seorang ahli ekonomi,
                   yaitu Ida Bagus Teken. Mereka di desa itu melatih pemupukan, dll.
                   Akhirnya uji coba pendidikan itu diambil alih oleh Menteri
                   Pertanian. Jadi mereka di desa mengikuti penuh selama 6 bulan,
                   dari penanaman sampai pemasaran, berbeda musim: kemarau dan
                   hujan.” 30


                   Pada tahun 1965, ketika Kampto Utomo menjabat rektor,
               kebijakan Bimbingan Massal tersebut masih dipertahankannya.
               Dua kabupaten di Jawa Barat yang mendapat perluasan uji coba
               selama periodenya adalah Cianjur dan Indramayu. Atas keber-
               hasilan rintisan Bimbingan Massal itulah maka pemerintah
               kemudian menetapkannya sebagai program wajib mahasiswa per-
               tanian se-Indonesia sebagai syarat wajib tugas akhir. Pada tahun
               1965 mahasiswa dari berbagai kampus yang mengikutinya
               sebanyak 1400 orang.  31



                   30
                      Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 21 November 2008.
                   31  Sajogyo, “Refleksi…”, op.cit., hal. 22.
               140
   188   189   190   191   192   193   194   195   196   197   198