Page 197 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 197
Ahmad Nashih Luthfi
program tidak berlanjut. 38 Pemerintah kemudian mendekati Ford
Foundation agar mendukung program ini terutama dalam hal
bantuan teknis. 39 Maka pada bulan 1964 diberlangsungkan
Konferensi Ekonomi dan Pertanian, seminar pertama di seluruh
Indonesia, di Cibogo, Bogor. Dalam seminar ini, persoalan eko-
nomi pertanian dan sosiologi dibicarakan, suatu kerangka
pendekatan yang pada gilirannya menjadi ciri khas riset dan
berkembang ke arah interdisipliner.
Mengenai maksud pendirian lembaga dijelaskan oleh
Sajogyo,
“Awalnya muncul ide dari Menteri Pertanian saat itu, Pak
Sadjarwo. Beliau orang PNI, nasionalis. Saat perancangan UUPA
1960 beliau sudah menjabat menteri, dan melihat saya ikut
berperan dan diundang beberapa kali diskusi perumusannya.
Ketika dilakukan Sensus Pertanian 1963, ia tidak puas sebab orang
2
yang memiliki tanah kurang dari 1000 m tidak dianggap sebagai
petani. Sensus itu patokannya adalah standar PBB. Sensus
Penduduk sejak kemerdekaan pertama kali dilakukan tahun 1961.
Sebab tidak puas itu, maka muncul ide pendidirian SAE. Ide itu
disetujui tapi diambil alih oleh Menko Perekonomian, Chairul
Saleh. SK pendirian SAE ditandatangani Chairul Saleh. Maka
dibentuklah Badan Kerja. Saya sebagai orang kampus, dan
mungkin juga saya muncul di UUPA 1960, maka di situ ditugasi
38 Gunawan Wiradi menjelaskan bahwa tidak adanya kesepakatan terkait
dengan keinginan FAO agar tim hanya bertanggung jawab ke Roma, sementara
Kampto Utomo bersikukuh agar tim bertanggung jawab kepada Presiden.
Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 17 Juli 2009. Bersamaan dengan
itu, ketegangan hubungan RI dengan lembaga dunia ini semakin memuncak
hingga akhirnya Indonesia keluar dari PBB, terutama disebabkan masuknya
Malaysia di dalam keanggotaan Dewan Keamanan pada tahun 1965.
39 Peran Ford Foundation dalam membiayai proyek ini lihat, Goenawan
Mohamad dkk. Menyambut Indonesia, Lima Puluh Tahun bersama Ford Foundation
(1953-2003) (Ford Foundation dan Equinox Publishing, 2003), hal. 77. Uniknya,
bantuan dana FF kepada Indonesia pertama kali (1953) adalah
menyelenggarakan kursus Bahasa Inggris. “Orang Indonesia,” kata Miller,
“dengan cepat melihat bahasa Inggris sebagai salah satu kunci bagi problem
pembangunan”. Bantuan untuk kegiatan ini sebesar US $ 150 dan mencapai US
$ 1,5 juta selama satu dekade dengan menghasilkan sepasang kamus, John
Echols-Hassan Shadily, satu kamus yang paling popular di Indonesia. Bandingkan
bantuan Uni Soviet pada dekade yang sama dalam jumlah US $ 800 juta. Ibid.
hal. 81-82.
144

