Page 200 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 200

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               Pertanian yang baru, Frans Seda, untuk melanjutkan proyek.
               Meski demikian, keanggotaan BK berganti. 44


               3. Keterbatasan dana dan penyiasatannya
                   Pada tahun 1965, pendanaan kegiatan survei dimasukkan
               dalam anggaran untuk urusan Pertanian/Agraria. Sampai dengan
               tahun 1967, prinsip “gotong royong” dalam pendanaan masih di-
               praktikkan, yakni Budget Rekonstruksi dalam Departemen Per-
               tanian disokong juga oleh semua direktorat jenderal yang terli-
               bat. Ketika semua anggaran dibekukan oleh pemerintah pada ta-
               hun 1965, hanya Rp. 21.888.889 (nilai rupiah lama) yang telah
               dibelanjakan untuk 2 kali lokakarya dan persiapan awal survey.
                   Setahun kemudian diperoleh Rp. 321.452,50 (nilai rupiah
               baru) dari 4 sumber berbeda sehingga sejumlah kerja lapang
               dapat dijalankan. Anggaran tahun 1967 dari sembilan anggota
               BPU terkumpul Rp. 2.918.000. Akhir Desember 1967, 97%-nya
               akan disetujui, namun dua bulan sebelumnya hanya 33% dari
               rencana anggaran yang dicairkan sehingga beberapa kerja
               lapangan tidak jadi dilakukan. Dalam pengelolaan uang itu,
               Ketua BK sekaligus bertindak sebagai bendahara. Sampai dengan
               tahun 1967 tugas bendahara dipegang oleh Chairani, Biro
               Penelitian Pertanian Deptan. Dari keseluruhan tahapan sampai
               dengan tahun 1968, dana yang diperoleh dari pemerintah sebesar
               Rp. 5,3 juta dengan 85%-nya berasal dari lingkungan Departe-
               men Pertanian. 45
                   Kemudian diperoleh bantuan dari Ford Foundation sejum-
               lah US $ 6.250 untuk periode dua tahun (1965-1967). Dana ini
               digunakan untuk menyelenggarakan seminar dan lokakarya,
               membeli buku dan materi publikasi asing, dan membiayai per-
               jalanan study tour ke beberapa negara (Thailand dan Jepang
               untuk permasalahan jagung; Malaysia untuk karet; dan Jepang
               dan Filipina untuk belajar pendokumentasian). Pada bulan Sep-




                   44  Ibid., hal 2
                   45  Kampto Utomo, op.cit., hal. vii.
                                                                        147
   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204   205