Page 196 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 196

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   Ia sendiri tidak membiarkan posisinya sebagai rektor
               semakin menjadikan bahan persengketaan. Atas persetujuan
               Menteri PTIP Dr. Syaref Thayib, ia mengajukan pengunduran
               diri. “Agar IPB tak lebih jauh terpecah, kami mundur saja”. 36
               Mengenai suasana saat itu dijelaskannya,

                   “Mahasiswa CGMI di IPB sebenarnya tidak ada sampai seper-
                   tiganya. Saya sewaktu menjadi rektor pernah membuat angket ten-
                   tang latar belakang organisasi mahasiswa, mengingat organisasi in-
                   ternal (senat) di kampus justru didirikan oleh berbagai organisasi
                   ekstra. Tidak pernah mengira kalau hasilnya ini kemudian dibuat
                   untuk melakukan pembersihan terhadap mahasiswa. Kuliah sempat
                   diliburkan. Di sini orang-orang PNI dibersihkan. Kemudian mereka
                   ini kumpul-kumpul, malah menyebut diri sebagai “7 pahlawan
                   revolusi”. Ada yang lama di SAE. Pak Makali juga disingkirkan dari
                   Departemen Pertanian. Mahasiswa juga dibersihkan, tidak kuliah.
                   Tapi di sini tidak ada bantai-bantaian.” 37

               E. Memimpin Lembaga Penelitian Survey Agro Ekonomi
                   Selepas dari jabatan rektor, Kampto Utomo tidak begitu saja
               menghilang dari dunia akademik dan kampus, sebab keber-
               adaannya segera direhabilitasi. Ia tetap mengajar di IPB dan
               banyak menekuni riset-riset empiris di lembaga yang dipimpin-
               nya, Survey Agro Ekonomi.

               1.  Berdirinya SAE: Memunculkan petani gurem yang ab-
                   sen dalam sensus
                   Survey Agro Ekonomi (SAE) dibentuk pada tahun 1965.
               Rintisannya telah dimulai pada tahun 1963 ketika Departemen
               Pertanian berupaya mendapat bantuan FAO dalam merealisasi
               kegiatan survei. Namun kedua lembaga itu tidak sampai pada
               suatu kesepakatan untuk membentuk “tim gabungan”, sehingga


                   36  Penjelasan melalui surat pribadi Sajogyo kepada penulis, 24 Mei 2007.
               Semuanya serba mungkin di saat fitnah-memfitnah demikian hebat. Bahkan saat
               itu dihembuskan pula isu etnis (Jawa-Sunda) oleh beberapa pihak yang
               berkepentingan dengan turunnya Kampto Utomo sebagai rektor. Isu etnis ini
               ditepis oleh Sajogyo dalam wawancara dengannya, sementara Gunawan Wiradi
               membenarkannya.
                   37  Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 16 November, 2008.
                                                                        143
   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200   201