Page 194 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 194
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Keberhasilan uji coba itu menghasilkan kesimpulan bagi
pemerintah akan perlunya sistem informasi komprehensif dan
asistensi untuk membantu petani dalam meningkatkan produksi-
nya, dan perlunya Koperasi Petani yang berguna memberi moti-
vasi petani. 32
Rintisan program BIMAS ini, yang oleh Orde Baru
kemudian diadopsi dengan berbagai macam perubahan mendasar
(kepanjangannya kemudian berubah menjadi Bimbingan Masya-
rakat dengan gaya instruktif dan bukan lagi penyuluhan/voor-
lichting), banyak dicatat dalam berbagai literatur oleh para pen-
eliti sebagai “kisah sukses” dan bernilai rintisan. 33
Pada saat menjadi rektor inilah Kampto Utomo memiliki
telepon rumah di kediamannya Jl. Malabar, Bogor. Biaya
pemasangan telepon relatif mahal saat itu dan gajinya sebagai
rektor tidak mencukupi untuk mendananinya. Pemasangan
telepon merupakan fasilitas yang diberikan oleh IPB, padahal
waktu itu ia tidak memintanya. 34
Hanya setahun menjabat sebagai rektor IPB, Kampto
Utomo kemudian berhenti. Bersamaan dengan 11 dosen yang
ada di IPB, ia menjadi korban dari huru-hara peristiwa 1965.
Kesebelas orang itu adalah mereka yang tersaji dalam tabel
berikut:
32 Egbert de Vries, A Summary Report of Activities of The Agro Economic Survey
in Indonesia, 1965-1968, (Bogor: SAE, 1968), hal. 22.
33 Secara berturut-turut di antaranya adalah Sajogyo, “Penelitian Ilmu-ilmu
Sosial dan Penerapannya”, dalam Koentjaraningrat (Ed.), Metode-Metode Penelitian
Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1986); Gunawan Wiradi, “Revolusi Hijau
Ditinjau Kembali”, Suara Pembaruan, 24 September, 1987; E. A. Roekasah dan
David H. Penny, “BIMAS: A New Approach to Agricultural Extension in
Indonesia”, BIES, no. 7, Juni 1967; Egbert de vries, Ibid.; Ernst Utrecht, “Land
Reform and Bimas in Indonesia”, Journal of Contemporary Asia, 3:2 (1973); Gary
Hansen, “Episodes in Rural Modernization: Problems in the BIMAS Program”,
Indonesia, No. 11, April 1971.
34 Wawancara dengan Sajogyo oleh Eka Budianta dan Dian Ekowati, Bogor,
30 Juli 2008. Sajogyo memanggil istrinya dengan “mbak” sebab usianya jauh
lebih tua darinya, sekitar 14 tahun.
141

