Page 205 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 205

Ahmad Nashih Luthfi


                   Melalui naskahnya yang berjudul “Modernization without
                                         59
               Development in Rural Java” , menggunakan data-data hasil riset
               di SAE, Sajogyo menjelaskan beberapa sebab kegagalan produksi
               dan distribusi Revolusi Hijau sebagai program yang dianggap
               melakukan modernisasi pertanian. Pertama, sebagaimana dipapar-
               kan di awal tulisan itu, ia langsung menyinggung ketimpangan
               penguasaan tanah dan “kekurangan lahan”, aspek yang justru
               sengaja dihindari oleh para desainer Revolusi Hijau. 60
                   “Kami sempat menulis satu makalah ‘Modernization without
                   Development’, yang merangkum pengamatan atas kasus awal
                   Revolusi Hijau di pedesaan Jawa, ditulis untuk suatu seminar FAO
                   di Bangkok, tahun 1973. “Revolusi Hijau” itu satu bentuk
                   “modernisasi” yang baru memperbaiki nasib “petani” di lapisan
                   atas di desa. Sebaliknya, di lapisan bawah petani gurem dan buruh
                   tani masih tertinggal, belum terangkat dalam “arus pembangunan”
                   yang berarti perbaikan hidup yang lebih “maju”. Misalnya,
                   kenaikan upah buruh tani padi sawah baru sepuluh tahun
                   kemudian menjadi kenyataan!”. 61

                   Dalam naskah itu Sajogyo menunjukkan bahwa tahun 1963
               dengan penduduk 66 juta jiwa ditemukan 55% petani memiliki
               tanah di bawah 0,5 ha dan 21%-nya memiliki tanah di atas 1 ha.
               Dua juta rumah tangga dengan luas kurang dari 1 ha yang tidak
               dimasukkan dalam Sensus Pertanian 1963 hanya memiliki
               pekarangan yang ditempati rumah tangga tersebut. Singkatnya,
               permasalahan ketimpangan agraria yang makin diperkuat oleh
               Revolusi Hijau digarisbawahi dengan tegas dalam naskah Sajogyo
               ini.


                   59  Sajogyo, “Modernization without Development in Rural Java”, paper pa-
               da seminar Agrarian Transitions FAO di Bangkok, 1973. Naskah ini kemudian ter-
               bit dalam Journal of Social Sciences, University of Dhaka, Bangladesh, 1982. Uraian
               ini menggunakan versi terjemahan bahasa Indonesia, Sajogyo, “Modernisasi
               tanpa Pembangunan”, dalam Sajogyo, 2006, op.cit., hal. 157-177.
                   60  Lihat “5 akselerator” dan “5 hal esensial” dalam paket Revolusi Hijau
               yang sama sekali tidak menyebut pentingnya restrukturisasi penguasaan tanah,
               sebagaimana telah diulas dalam Bab III (catatan kaki No. 39).
                   61  Sajogyo, “Struktur Agraria, Proses Lokal dan Pola Kekuasaan”, dalam
               Endang Suhendar, dkk., Menuju Keadilan Agraria: 70 Tahun Gunawan Wiradi
               (Bandung: AKATIGA, 2002).

               152
   200   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210