Page 208 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 208
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
buruh dan pekerja informal. Revolusi Hijau mengakibatkan
proses deagrarianisasi.
6. Berbagai apresisasi
Dalam perkembangannya, SAE dinilai telah berhasil dalam
“memberi kontribusi yang penting sekali bagi pemahaman lebih
baik mengenai kondisi ‘agro-ekonomi’ sehingga berguna dalam
memberi saran dasar bagi proses ‘policy making’ bagi pembangu-
nan”. 66 Ditegaskan pula,
“It will be clear from what follows that these relatively inexperienced (their
average age is 32 years), part time research workers have written reports
which illuminate a wide range of problems facing the development of
Indonesian agriculture.” 67
Meski kinerja tim terpisah dengan proses dan pengaruh
pembuatan kebijakan, namun hasil-hasilnya sejak awal memang
diharapkan dapat memberi pemahaman menyeluruh bagi proses
pembuatan kebijakan, sebagaimana yang tersirat dalam SK
pendiriannya. Hasil-hasilnya dimanfaatkan oleh pembuat
kebijakan. Sejumlah kebijakan yang sedang dibuat berubah
seluruh atau sebagiannya, sebagai hasil dari kajian lapangan yang
telah dilakukan oleh SAE, terutama setelah riset tahun 1967-
1968. Namun perubahan itu terjadi lama setelah laporan ditulis
dan bahwa perubahan kebijakan lainnya yang direkomendasikan
oleh SAE banyak yang belum dijalankan. 68
Sampai dengan tahun 1968 yang dihasilkan oleh bagian
dokumentasi SAE adalah: membuat direktori pertanian dari lem-
baga riset dan fakultas yang ada di Bogor dan Jakarta; panduan
klasisfikasi geografi Indonesia berdasarkan klasifikasi UDC;
indeks artikel selama 3 tahun terakhir; bibliografi ekonomi
pertanian di Indonesia; membeli pustaka (melalui bantuan FF);
66 Alan M. Strout, “Managing The Agricultural Transformation on Java: A
Review of The Survey Agro Ekonomi”, Jurnal BIES, Vol. XXI, No 1, April, 1985,
hal. 62.
67 David H. Penny, op.cit., 1971, hal. 111.
68 Egbert de Vries, op.cit., hal. 10.
155

