Page 211 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 211
Ahmad Nashih Luthfi
sebagaimana yang terjadi pada periode setelahnya (ketika bero-
rientasi Anglo-Saxon, sejak tahun 1970-an).
Kedua adalah rangkaian akumulatif dari empiris-studi-policy.
Prosedur konsultasi antara tim SAE dengan “policy-makers” dila-
kukan berkali-kali untuk menjamin agar “laporan-laporan survey
pada achirnja tidak hanja masuk arsip mati sadja, melainkan
sebaliknja mampu melahirkan pertimbangan-pertimbangan baru
jang konkret dan berharga dalam pemetjahan masalah-masalah
pertanian kita”. 75 Pengalaman ini terkonfirmasi nantinya dalam
saran-saran Sajogyo agar dalam mengkaji dan memecahkan
persoalan (pembangunan dan kemiskinan) memerlukan kerja-
sama antar institusi baik sektor publik, kesukarelawanan, dan
privat, sebagaimana uraian Norman Uphoff, Local Institution De-
velopment. 76 Bukan dimaksudkan sebagai pengetahuan yang
diletakkan secara subordinatif di bawah kepentingan kebijakan
(negara dan swasta), justru dengan pengetahuan yang otoritatif
akan mampu memandu kedua sektor itu. Buku Norman Uphoff
ini dalam beberapa dekade kemudian sering dikutipnya, merupa-
kan teoretisasi yang sebenarnya hanya bersifat mengkorfirmasi
pengalaman Sajogyo bersama SAE.
SAE telah menjadi wadah pelembagaan karir intelektual
Sajogyo di awal periode Orde Baru. Dari dalam lembaga ini
muncul “manifesto akademis” melalui naskah “Modernization
without Development in Rural Java”. Naskah ini justru berfungsi
sebagai “paradigma kritis” terhadap pembangunan pertanian/pe-
desaan dan selanjutnya menyarankan agar “imajinasi sosiologis”
diarahkan pada “lapis terbawah” masyarakat, serta pentingnya
perspektif pemberdayaan.
75 Kampto Utomo, op.cit., hal. viii.
76 Norman Uphoff, Local Institutional Development: an Analytical Sourcebook
with Cases, (West Hartford: Kumarian Press, 1986). Buku ini masih disaran-
kannya menjadi “Kerangka Analitik” dalam kegiatan “Ngaji Bareng Prof.
Sajogyo” selama bulan Ramadhan, 1428 H., (November-Desember, 2009). Sajog-
yo sendiri yang menyiapkan kurikulum dan bahan-bahannya agar dikaji oleh pe-
serta di Sajogyo Institut, Bogor.
158

