Page 212 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 212

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   Lembaga penelitian SAE telah melahirkan peneliti-peneliti
               ilmu sosial dan ahli-ahli sosial ekonomi pertanian di Indonesia.
               Banyak dari mereka yang terlibat dengan SAE kemudian
               mendirikan asosiasi ilmuwan, Perhimpunan Ekonomi Pertanian
               Indonesia (PERHEPI). Organisasi ini beranggotakan tidak hanya
               mereka para ekonom, namun juga mereka yang berminat pada
               kajian sosial ekonomi pertanian dari berbagai latar disiplin, bah-
               kan tidak juga mengharuskan bertitel sarjana.
                      ‘
               F. UPGK dan Garis Kemiskinan
                   Dalam Koran Tempo edisi 29 September 2009, Universitas
               Indonesia memasang iklan pembukaan mahasiswa baru. Univer-
               sitas itu mengiklankan diri sebagai perguruan tinggi yang telah
               “mengakar dan bercabang...”. Hal menarik dari iklan itu adalah
               adanya ilustrasi “pohon ilmu pengetahuan” yang digambarkan
               memiliki 3 batang (pokok) ilmu, yakni kategori ilmu kesehatan,
               ilmu sosial dan humaniora, dan ilmu eksakta dan teknologi. Ilmu
               kesehatan dalam iklan tersebut telah menjadi kategori ilmu
               tersendiri.
                   Masing-masing batang ilmu pengetahuan itu memiliki perca-
               bangan dan ranting-ranting yang seakan-akan saling terlepas satu
               sama lain. Dari ilmu kesehatan, misalnya, terdapat cabang ilmu
               kedokteran dan kesehatan masyarakat. Sementara ekonomi,
               politik dan sejarah termasuk ilmu sosial dan humaniora, sedang-
               kan teknik sipil dan biologi sebagai ilmu eksakta dan teknologi.
               Masing-masing sub-disiplin ilmu seakan-akan saling menjauh dan
               berdiri sendiri.
                      Hal seperti di atas tentulah bukan pengalaman Sajogyo
               ketika  berperan  dalam  meneliti  dan  merumuskan    Usaha
               Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Sebagai seorang sosiolog ia
               mampu melihat persoalan gizi dalam konteks sosial-ekonomi,
               sesuatu yang kemudian melatarinya menciptakan instrumen
               untuk merumuskan “Garis Kemiskinan” atau yang kelak dikenal
               dengan “Garis Kemiskinan Sajogyo”. Persoalan gizi tidaklah
               semata-mata persoalan kesehatan (akibat), namun yang lebih

                                                                        159
   207   208   209   210   211   212   213   214   215   216   217