Page 215 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 215
Ahmad Nashih Luthfi
Keduanya terlihat jauh berbeda. Taman Gizi dalam program
UPGK berinti pada pendidikan orang dewasa di luar sekolah. 83
Konsepnya adalah pengorganisasian rakyat dan bukan mobilisasi
berdasar instruksi dari atas sebagaimana kemudian dipraktekkan
dalam Posyandu. Kegiatan UPGK mencakup penyuluhan gizi
masyarakat, pelayanan gizi, dan peningkatan pemanfaatan lahan
pekarangan.
Dari ketiga kegiatan UPGK itu tampak sekali jejak-jejak
pendidikan Sajogyo. Pendidikan orang dewasa dipelajarinya dari
Prof. Teko Sumodiwirjo, 84 dan masalah pekarangan dari G. J. A.
Terra semasa ia kuliah. Bagi generasi tahun 1950-an, nama Prof.
Teko dan kiblat Denmark-nya lebih dikenal dalam pendidikan
orang dewasa daripada Paulo Freire dan Brasil yang sering
dirujuk aktivis pendamping petani generasi tahun 1980-an.
Mengenai gurunya, G. J. A Terra, Sajogyo mengenang, “Awalnya,
ia hendak meneliti buah-buahan di Jawa. Ia membayangkan buah-
buahan ditanam di areal perkebunan berblok-blok sebagaimana di
Eropa. Namun setiba di Jawa ia menjumpai bahwa buah-buahan
banyak ditanam di pekarangan, beragam jenis menjadi satu,
bahkan dengan jenis tanaman lainnya. Mulai tanaman yang ada di
dalam tanah, jenis umbi-umbian, setinggi lutut, sepinggang, sejajar
orang dewasa, sampai dengan bermeter-meter tingginya, ditemukan
semuanya di pekarangan rumah. Melihat pola semacam itu,
penelitian yang dilakukan mengarah pada usaha memahami
‘budaya pekarangan’ sampai dengan ‘budaya rumah tangga’”. 85
83 Sajogyo, 1994, op.cit., hal. X.
84 Karya Teko Sumodiwirjo mengenai pendidikan orang dewasa, Sekolah
Tinggi Rakjat (Djakarta: Pusat Djawatan Rakjat, 1954). Buku ini bukan pe-
ngalaman Indonesia namun hendak mencontoh dari pengalaman negara-negara
skandinavia utamanya Denmark dengan tokoh “School for Adult”-nya N. F. S.
Grundtvig. Peserta sekolah ini adalah pemuda-pemudi tani berumur 18-25 tahun,
tanpa ujian masuk/keluar dan tamat untuk kembali bekerja di pertanian.
Indonesia mencontoh pengalaman ini dengan mendirikan Balai Pendidikan
Masyarakat Desa (BPMD). Sejak bulan Oktober 1947, BPMD dimasukkan
sebagai bagian dari rencana 3 tahun program Kementerian Kesejahteraan, atau
dikenal dengan “Plan Kasimo”. Beberapa BPMD yang terkenal ada di Turen
Malang, Bukittinggi, Ampel, Lebakwangi, dan Kuningan. Lihat, Badan Usaha
Penerbit Almanak Pertanian, Almanak Pertanian 1954 (Jakarta, 1954), hal. 383-
405.
85 Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 2 Oktober, 2007.
162

