Page 214 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 214
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
sehingga mengabaikan pangan, budaya patriarkis yang lebih
mementingkan (pangan) ayah, dan lebih mementingkan membeli
pakaian dari pada pangan. Di dalamnya ada masalah ekonomi,
mental, dan pengetahuan. 80
Mereka menyarankan agar perbaikan gizi dapat dilakukan
dengan memperhatikan pola makan, mendahulukan makanan
cukup gizi pada anak daripada orang tua. Keluarga miskin dapat
mengoptimalkan bahan pangan dengan syarat cukup gizi yang
mudah didapat di sekitarnya. Sebaliknya, keluarga kaya perlu
waspada agar tidak ceroboh memberi penganan-penganan ringan
(snack) meski mewah namun bergizi rendah yang justru dapat
mengurangi selera makan primer sang anak.
Atas saran itulah kemudian diuji-cobakan usaha perbaikan
gizi keluarga dalam bentuk program Taman Gizi,
“Di mana sejumlah ibu yang punya anak balita gizi-kurang
berkumpul berkala (sukarela), dalam lembaga bentukan
desa/kampung itu... Di Taman Gizi para ibu yang bermasalah
mendapat “pelatihan” dalam hal memelihara gizi baik terutama
anak kurang dari 5 tahun maupun dirinya.... terisi dengan
perkenalan (demonstrasi) menyiapkan beragam hidangan sehat-
murah untuk keluarga, sesuai pola makanan setempat. Ada pula
(ini unsur baru) pembagian makanan sehat berupa “tepung kedele”
bagi anak balita gizi-kurang yang di Taman Gizi dibagikan selama
3 bulan.” 81
Taman Gizi bukanlah taman dalam arti pekarangan atau
“warung hidup”, namun kumpulan ibu-ibu yang bersatu dalam
usaha menangani balita kurang gizi. Taman Gizi merupakan
cikal bakal dari “Posyandu”, meski keduanya dijalankan dengan
konsep yang berbeda. “Eksperimen Taman Gizi waktu itu
berlangsung sebelum Departemen Kesehatan meluncurkan
Program Posyandu yang menurut namanya saja lebih tampak
merupakan “alat” dalam Program yang digelar Pemerintah”. 82
80 Sajogyo, dkk., Menuju Gizibaik yang Merata di Pedesaan dan di Kota
(Yogyakarta: GMU Press, 1994 [edisi V]), hal 5-6.
81 Sajogyo, 2006, op.cit., hal. 74.
82 Ibid., hal. 76.
161

