Page 217 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 217

Ahmad Nashih Luthfi


                   oleh Pak Widjojo. Di sana diserahi tugas tentang Applied Nutrition
                   Programs, atau UPGK.” 88

                   Ketika naskah ini dipresentasikan oleh Sediono M. P.
               Tjondronegoro dalam pertemuan FAO tersebut, kesan mengenai
               perlunya pelaksanaan Reforma Agraria (RA) terasa samar-samar
               meski mendapat sambutan dari peserta lain (asal India).
               Mengenai pertemuan tersebut, Sediono mengatakan:

                   “Kalau dari Indonesianya kok gak terlalu itu ya. yang saya ingat ada
                   dari India. Dia juga setuju rupanya [dilakuan RA], seorang guru
                   besar perempuan. Delegasinya ‘kan macem-macem. Tapi kami tidak
                   sempat mendiskusikan lebih lanjut di luar rapat itu. Di negara
                   bagian mana, apa, ini soalnya diskusi makro ya. Tapi dia manthuk-
                   manthuk, ya memang betul, kalau ini tidak dilaksanakan, dilakukan,
                   maka kemiskinan tidak bisa diatasi sebagai masalah nasional.” 89

                   Sementara itu, di dalam naskah pengantar buku karya Masri
               Singarimbun dan David Penny, Sajogyo menyarankan untuk
               mengatasi ketidakmerataan kepemilikan tanah bagi petani gurem
               perlu dibentuk BUBT (Badan Usaha Buruh Tani).    90  Persoalan
               ketidakmerataan tanah, tulisnya, diselesaikan bukan dengan cara
               meredistribusi tanah kelebihan maksimal atau tanah-tanah
               terlantar, namun adalah melalui landreform. Uniknya, sasarannya
               justru dikenakan pada petani gurem, dengan cara mereka yang
               menguasai tanah kurang dari 0,2 hektar dibeli tanahnya oleh
               pemerintah dengan harga tertentu, kemudian tanah ini dititipkan
               oleh negara dan diserahkan pengelolaannya kepada Badan Usaha
               Buruh Tani (BUBT). Mengenai ide BUBT ini, Ben White
               menulis, “Ketika ditanya mengapa memperkenalkan kembali isu
               landreform, ia menjelaskan kepada penulis bahwa itu dimaksud-




                   88  Wawancara dengan Sajogyo, Bogor, 16 November, 2008.
                   89  Wawancara dengan Sediono M. P. Tjondronegoro, Bogor, 20 November
               2008.
                   90  Sajogyo, “Kata Pengantar Pada Buku ‘Desa Srihardjo”, naskah ketik,
               1976, hal. 2-3. Tulisan dapat dilihat dalam  Masri Singarimbun, dan D. H.
               Penny, Penduduk dan Kemiskinan: Kasus Desa Srihardjo (Jakarta: Bhratara Karya
               Aksara, 1976).
               164
   212   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222