Page 222 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 222

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               berdasarkan pengalamannya ketika terlibat dalam program-pro-
               gram SAE. Ia pun menggunakan data-data SAE dalam makalah
               yang disampaikannya pada cara tersebut. 100
                   Kemiskinan dilihat sebagai sebuah “konsekuensi” dan bukan
               “kondisi”. Melihat kemiskinan sebagai “konsekuansi” tidak lazim
               dalam konteks saat itu. Kemiskinan dianggap sebagai sesuatu
               yang “given” (kondisi kemiskinan) yang bisa ditunjuk siapa dan
               tinggal dimana, dan tentu saja, bisa diukur. Jikapun sebagai aki-
               bat, ia dikaitkan dengan sebab-sebab internal yang bersifat
               mentalitas: ketiadaan etos untuk maju, pendidikan yang rendah,
               dan nihilnya berbagai “etika protestan” ala Weberian. Bahkan
               kehadiran dunia LSM saat itu tidak bisa melepaskan diri dari
               cara pandang tersebut. Sehingga kegiatan mereka saat itu lebih
               mengarah pada pemberian pelatihan, peningkatan etos, kewirau-
               sahaan dan capacity building 101  (sesuatu yang terulang kembali di
               berbagai kampus pada masa sekarang).
                   Kemiskinan adalah konsekuensi atau akibat dari berbagai
               kekuatan yang menyelimuti kehidupan masyarakat (tani). Ia
               memiliki sejarah dan dinamika yang berbeda-beda dalam hal
               proses pembentukan, durabilitas, dan bahkan juga reproduksi-
               nya. Beberapa hal berikut adalah penyebabnya. 102  Pertama, struk-
               tur penguasaan tanah yang timpang berakibat pada dominasi
               satu kelompok atas lainnya, dan peluang mengembangkan naf-
               kah berganda bagi kelompok bawah masyarakat tani terhambat
               sebab ia tidak memiliki modal dasar yang kuat (tanah). Sektor




                   100  Bersama Rudolf Sinaga (Ketua SDP-SAE), ia menyampaikan makalah
               berjudul, “Beberapa Aspek Kelembagaan di Pedesaan Jawa dalam Hubungannya
               dengan Kemiskinan Struktural”. Berbagai makalah dalam kongres itu diterbitkan
               dalam Alfian, Mely G. Tan, dan Selo Soemardjan (Ed.), Kemiskinan Struktural:
               Suatu Bunga Rampai (Jakarta: Pulsar/YIIS/HIPIS, 1980).
                   101  Mengenai kritik bagaimana gerakan LSM pun berada di bawah bayang-
               bayang ideologi developmentalisme, dan bahkan menjadi penyokong utamanya,
               lihat Mansour Fakih, Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial: Pergolakan Ideologi
               LSM di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008 [cetakan keempat]),
               terutama Bab 5.
                   102  Simak, Sajogyo, “Pembangunan dan Kemiskinan Struktural”, tt, 4
               halaman.
                                                                        169
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227