Page 224 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 224

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                      Mengenai    penelitian  UPGK,    selain  sebagaimana
               diuraikan di atas, yang patut dicatat adalah efek kebijakan yang
               ditimbulkannya di tingkatan birokrasi pemerintah. Mengingat
               masalah gizi memiliki dimensi yang kompleks, maka dalam peng-
               galangan dukungan penanganannya memerlukan keterlibatan
               lintas sektoral. Sajogyo merekomendasikan agar pembinaan pro-
               yek UPGK dijalankan dengan kekuatan Instruksi Presiden yang
               menugaskan lingkungan Departemen Kesehatan, Departemen
               Dalam Negeri, Departemen Transkopnaker, dan Departemen
               Pertanian. Dengan kerjasama antar sektor diharapkan akar perso-
               alan dapat diselesaikan dan proyek dijalankan tidak semata-mata
               menggugurkan kewajiban formal di masing-masing penanggung
               jawab proyek/departemen. Inilah gagasan bernas Sajogyo kala
               itu. 103
                   Studi wanita pedesaan tumbuh subur di lembaga ini. Bah-
               kan kajian gender dalam ilmu sosial agraria pun bermula dari
               lembaga ini, yang kemudian direplikasi menjadi Pusat Studi
               Wanita yang tumbuh di kampus-kampus. Studi wanita muncul
               berbarengan dengan diskursus Women in Development (WID)
               yang mulai berkembang di dunia sejak tahun 1972. Tumbuh
               secara bersamaan, wajah studi wanita di lembaga ini mengalami
               ancaman “penjinakan” sebagimana wacana WID itu bermula di
               Amerika melalui USAID.
                   Agenda utama program WID adalah bagaimana melibatkan
               kaum perempuan dalam kegiatan pembangunan. Asumsinya,
               keterbelakangan  perempuan    terjadi  karena  mereka  tidak
               berpartisipasi dalam pembangunan, “WID advocates have adopted a
               strategy of relevance. In other words, their demands for the allocation of
               development resources to women hinge on economic efficiency arguments
               about what women can contribute to the development process.” 104




                   103  Eko Cahyono dan Moh. Shohibuddin, “Pembangunan yang Baik: Cukup
               Pangan dan Gizi Baik; Wawancara dengan Prof. Dr. Ir. Sajogyo”, Majalah Basis,
               No. 05-06, Mei-Juni, 2008, hal. 27.
                   104  Shahrashoub Razavi dan Carol Miller, “From WID to GAD: Conceptual
               Shifts in the Women and Development Discourse”, Occasional Paper, 1, February
                                                                        171
   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229