Page 229 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 229
Ahmad Nashih Luthfi
Kata “pedesaan” yang diusulkan dalam “memo Sajogyo,
1981” tidak jadi digunakan sebagai nama PSP. Padahal dalam
memo itu ia menekankan pada “arti dan tujuan” pembangunan
yang “bukan hanya membawakan arti pembangunan pedesaan
yang dibuat oleh penguasa/negara (dari atas) atau oleh teoreti-
kus/ilmuwan, tapi juga menggali dari tengah masyarakat sendiri”.
Ditekankan juga tentang arti dan tujuan penelitian dengan ciri
“antar-disiplin” ilmu. 113 Gagasan Sajogyo yang khas tercermin
dalam cita-cita pendirian PSP: pendekatan emic dan interdisipli-
ner!
Ada periode ketika PSP menghasilkan beberapa tema riset,
di antaranya studi perhutanan sosial dengan dana dari Ford
Foundation dan PT. Perhutani. Dalam hal ini PSP membantu
mengembangkan pilot project di Jawa. Adakah ide ini merupakan
cikal-bakal dari Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (2001)
yang telah banyak dikritik oleh masyarakat/LSM sebab
mengandung unsur “tanam paksa” di dalamnya?
Sajogyo pada tahun 1950-an ketika menjadi mahasiswa dan
asisten dosen, telah memiliki pengalaman meneliti tentang
masyarakat di/dalam kawasan hutan. Penelitian di Cibodas
tentang “upaya kreatif” masyarakat yang menyiasati “kecura-
ngan” Perhutani dalam “kerjasama tumpang-sari”, pengalaman
lampung tentang pembedaan “hutan yang dikuasai desa”, serta
pengalaman mendampingi penelitian K. J. Pelzer di pedalaman
Sumatera, mengajarkan tentang “pentingnya hutan bagi masya-
rakat”. 114
Pendiriannya masih sama ketika pada tahun 1991 ia menya-
takan bahwa hutan adalah “sumber pangan” bagi masyarakat.
Bagi petani ladang berpindah, sangat jelas bahwa hutan adalah
“ladang” sebagai lahan mereka menanam secara bergilir.
113 Ibid., hal. 7 dan 2
114 Sajogyo, “Masyarakat Desa dan Hutan”, tt, 1976
176

