Page 230 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 230

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               Demikian juga “hutan domestik” di dalam kampung, yakni
               pekarangan. Keduanya berfungsi sebagai sumber pangan. 115
                   Dalam pengalaman panjang sejarah Indonesia, kondisi “la-
               par tanah” yang dialami rakyat di satu sisi, dan “hak penguasaan
               oleh negara” di sisi lain, di mana Perhutani telah bertindak se-
               bagai perusahaan “parastatal” (para-state), menempatkan kedua
               belah pihak pada posisi konflik berkepanjangan. Dengan berba-
               gai kondisi dan pengalaman itu, agaknya sulit menyeberangkan
               keberadaan Sajogyo dari posisi rakyat.
                   Penelitian  Peluang   Usaha/Kerja   di  Luar   Pertanian
               (PukLuTan) antara tahun 1986-1991 di Jawa Barat mendoku-
               mentasikan banyak hal: kerjasama peneliti, kerjasama kelemba-
               gaan, pendirian baru lembaga penelitian, dan peluang studi lanju-
               tan. Penelitian ini merupakan kerjasama 4 kampus, yaitu PSP-
               IPB, Institute of Social Science, ITB, dan Pusat Studi Pedesaan dan
               Kawasan (PSPK) UGM. Penelitian dilakukan di bawah tema
               “Produktivitas Pedesaan dan Sektor Non-Pertanian di Jawa Ba-
               rat”. Dalam pengorganisasian riset, penelitian ini mengembang-
               kan penguatan tiga lapis tenaga riset: lulusan S1 sebagai tenaga
               full timer, S2 sebagai lapis tengahnya, dan S3 sebagai peneliti
               senior. 116
                   Riset mengambil lokasi di Cirebon, Bogor, Subang, Purwa-
               karta, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Pandeglang. Tujuan utama
               riset adalah mengidentifikasi faktor-faktor pendukung perkemba-
               ngan industri pedesaan dan kegiatan non-pertanian yang dipe-
               ngaruhi oleh pertanian perkebunan; mengidentifikasi pola pem-
               bangunan industri desa dan memberikan saran dalam memaksi-
               malkan pertumbuhan dan peningkatan kesempatan kerja dan
               distribusi pendapatan; serta menemukan berbagai hambatan
               yang dihadapai para pengambil kebijakan dalam merangsang
               tumbuhnya industri dan pekerjaan di pedesaan. 117


                   115  Sajogyo, “Pangan dari Hutan dan Pekarangan”. Jawa Pos, 15 Oktober,
               1991
                   116  Sajogyo, 1993, op.cit., hal. 13
                   117  Soegijanto Padmo, “Perkembangan Kesempatan Kerja Non-pertanian di
               akresidenan Cirebon, 1830-1930”, dalam Thomas J. Lindblad (Ed.), Sejarah
                                                                        177
   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235