Page 226 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 226

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   muskan dalam GBHN dan Repelita III; program pemerintah ter-
                   hadap peran wanita dalam berbagai sektor pembangunan dipri-
                   oritaskan pertama-rama adalah kepentingan perempuan pedesaan.
                   …..terdapat indikasi yang menyatakan sekitar 40% perempuan dari
                   keluarga petani gurem, tuna kisma dan miskin,… masih menghada-
                   pi berbagai kesulitan.” 109

                   Gap antara harapan ideal sebagaimana telah dirumuskan
               pemerintah dalam peraturan perundang-undangannya, dengan
               kenyataan yang menunjukkan berbagai kesulitan yang dihadapi
               oleh perempuan pedesaan itulah yang menjadi “misteri” dalam
               riset Pudjiwati.
                   Dalam bab dua, sebagai kerangka analitik, Pudjiwati menun-
               juk “alokasi waktu” kerja perempuan dan kontribusi reproduksi
               sebagai produksi/efisiensi ekonomi rumah tangga. Perimbangan
               utama dalam pendekatan itu adalah ingin menunjukkan “sum-
               bangan wanita” terhadap keluarga melalui pekerjaan dalam pro-
               ses produksi dan reproduksi. Sumbangan itu harus dilihat secara
               “wajar” yaitu sebagai “sumber daya manusia” sebagaimana pria
               melakukan pekerjaan yang langsung dalam menghasilkan naf-
               kah. 110  Dengan kata lain, suatu ketidakwajaran dalam logika
               pembangunan jika perempuan tidak turut memberikan “sum-
               bangsihnya”.
                   Terlebih kerangka analisa yang digunakannya adalah berasal
               dari Marion J. Levy, seorang ahli strukturalisme fungsional.
               Pendekatannya menekankan pada pemapanan fungsi dalam
               struktur yang sudah ada, atau jika terdapat perubahan, fungsi-
               fungsi diberi makna baru dan tidak dengan cara mengubah struk-
               tur yang ada. Keberlangsungan dan kelancaran pembangunan
               memerlukan kemapanan fungsi-fungsi (peran) wanita dan pria,
               dan hubungan keduanya berjalan secara stabil (status quo).





                   109  Pudjiwati Sajogyo, Peranan Wanita dalam Perkembangan Masyarakat Desa
               (Jakarta: Rajawali, 1983), hal. 361.
                   110  Harsya W. Bachtiar (ed.), Masyarakat dan Kebudayaan : Kumpulan
               Karangan untuk Prof.Dr.Selo Soemardjan (Jakarta: 1988), hal. 152. Naskah ini
               adalah ringkasan disertasi.
                                                                        173
   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230   231