Page 223 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 223

Ahmad Nashih Luthfi


               non-farm bukanlah cerita tentang kemenangan namun justru ke-
               (di) kalah(k)an.
                   Kedua, berbagai perubahan baru (mengenai sistem panen)
               mengakibatkan terlepasnya hubungan bapak-anak (patron-client)
               yang semula berfungsi sebagai pengikat hubungan sosial eko-
               nomi. Ketiga, kebijakan pemerintah yang bias kota dan bias elit,
               sebagaimana tampak jelas dalam kasus Koperasi Unit Desa
               (KUD). Keempat, tiadanya kemauan politik (political will) peme-
               rintah dalam mengorientasikan kebijakan yang mengutamakan
               golongan bawah masyarakat (tani).
                   Semua gambaran itulah yang menjadi structural limit yang
               bersifat membatasi ruang gerak masyarakat lapis bawah sehingga
               mereka terjebak ke dalam lingkaran kemiskinan yang kemudian
               disebut dengan budaya kemiskinan. Maka, budaya kemiskinan
               lebih sebagai akibat daripada sebab. Dengan demikian, Sajogyo
               telah membantu mengenali/mengidentifikasi bagaimana “krisis
               agraria” merupakan akar dari kemiskinan.


               H. Lembaga Penelitian Sosiologi Pedesaan: Tantangan De-
                   velopmentalism
                   Antara tahun 1972 hingga 1991, Sajogyo menjadi bagian
               yang tidak terpisahkan dari tumbuh-kembangnya pusat studi
               ilmu sosial di Institut Pertanian Bogor. Dalam rentang waktu itu,
               pusat studi yang dipimpinnya menghadapi berbagai tantangan
               baik yang bersifat paradigmatis, teknis, hingga politis. Mulai dari
               pemantapan disiplin ilmu sosial, urgensitas dilakukannya pers-
               pektif interdisipliner di dalam riset sosial, paradigma pembangu-
               nan dan berbagai kritiknya, hingga riset-riset aksi, merupakan
               sebagian tantangan yang dihadapi dari segi metodologi. Tidak
               kalah pentingnya adalah tenaga peneliti, sarana, dan pendanaan.
                   Sajogyo menjadi direktur pertama Lembaga Penelitian
               Sosiologi Pedesaan (LPSP) yang didirikan pada tahun 1972.
               Berbagai penelitian dengan perspektif sosiologi pedesaan dilaku-
               kan, misalnya penelitian UPGK, studi wanita pedesaan, dan ting-
               kat pendapatan rumah tangga dan kecukupan pangan.


               170
   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228