Page 219 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 219
Ahmad Nashih Luthfi
Presiden di atas tanggal 16 Agustus 1984. Pidato itu tidak secara
langsung mengutip naskah Sajogyo namun menggunakan laporan
BPS periode Agustus 1984 yang telah diolah dari Garis Kemis-
kinan Sajogyo, analisa Polii, Parera, dan Bank Dunia. Meski BPS
menggunakan angka 2100 kalori dari Sajogyo, namun ia mem-
bandingkannya dengan harga setara beras (konversi harga adalah
murni dari BPS yang justru tidak ada dalam Sajogyo).
Ketika Sajogyo berusaha menghitung dengan cara konversi
harga beras sebagaimana BPS (periodik tahun 1978, 1979,
1981), namun berdasarkan harga dari Survei Sosial Ekonomi
Nasional (Susenas), ternyata ditemukan angka yang lebih rendah
dari angka BPS. BPS menggunakan harga beras yang lebih tinggi
dibanding Susenas.
Demikianlah, riset UPGK yang dalam pandangan sepintas
hanya berdimensi kesehatan, dalam kacamata sosiolog Sajogyo
bersifat multi dimensi: budaya, sosial, ekonomi, bahkan politik.
Angka kemiskinan menjadi permainan dan komoditas politik,
setidaknya dalam rentang 5 tahunan (ritual Pemilu). Karena
digunakan sebagai komoditas politik, Sajogyo pernah mengkritik
penganugerahan UNDP kepada Presiden Soeharto atas
“prestasinya” menurunkan angka kemiskinan. Tanpa segan ia
mengatakan:
“Jika penilaian itu dilakukan secara obyektif tentu kita wajib ber-
syukur, tetapi saya melihat bahwa ada pihak-pihak dari departe-
men tertentu yang meminta UNDP untuk memberikan penghar-
gaan tersebut kepada Pak Harto. Departemen tersebut mengun-
dang UNDP untuk memberikan penghargaan atas suksesnya peng-
entasan kemiskinan di Indonesia.
Departemen Koperasi sebenarnya meminta UNDP untuk menilai
program koperasi yang mereka kembangkan, bahwa lewat koperasi,
Indonesia berhasil memerangi kemiskinan. Karena UNDP menilai
bahwa koperasi yang dikembangkan Departemen Koperasi belum
layak menerima penghargaan untuk mengentaskan kemiskinan di
Indonesia. Akhirnya setelah berunding UNDP bersedia memberi
penghargaan, itupun dengan sejumlah catatan.” 94
94 Ibid.
166

