Page 218 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 218

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               kan sebagai proefballon, sebuah percobaan”. 91  Lontaran idenya
               tidak bersambut di kalangan ilmuwan sosial kala itu apalagi
               “terlembagakan” menjadi sebuah kebijakan. Lagi-lagi, ide Sajogyo
               menjadi socially and politically insensible di dalam konteks ilmu
               sosial yang sedang menuju arah yang berbeda.
                   Dari riset UPGK, Sajogyo telah mengembangkan ukuran
               garis kemiskinan. Dengan kreatif ia mengekstrapolasikan hasil
               survey di 8 propinsi itu, membanding-banding buku karya R.
               Schiekele, Agrarian Revolution and Economic Progress, dan dibantu
               sebuah buku BPS, maka dihasilkannya angka 240 kg/tahun
               untuk penduduk desa dan 369 kg yang di kota, sebagai ukuran
               garis kemiskinan. Pemikiran Sajogyo ini pertama kali dapat
               dibaca oleh publik ketika dimuat dalam surat kabar Kompas
               tanggal 17 November 1977 dengan judul “Garis Kemiskinan dan
               Kebutuhan Minimum Pangan”. Pemikiran itu digunakan secara
               luas sejak tahun 1977, 92  diadopsi juga oleh pemerintah sebelum
               akhirnya secara resmi pemerintah menggunakan konsep BPS
               pada tahun 1984.
                   “Salah satu indikator penting pemerataan kesejahteraan rakyat
                   adalah jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan.
                   Apabila garis kemiskinan dipakai sebagai tingkat pengeluaran
                   keluarga minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
                   pangan setara dengan 2100 kalori per anggota keluarga per hari
                   serta kebutuhan pokok bukan-pangan tertentu, maka diperoleh
                   jumlah sebagai berikut…berkurang dari 54,2 juta orang atau 40,1%
                   dari seluruh penduduk dalam tahun 1976 menjadi 47,2 juta atau
                   33,3% dari seluruh penduduk dalam tahun 1978…menjadi 40,6
                   juta atau 26,9% dalam tahun 1981”. 93

                   Istilah “Garis Kemiskinan” masuk dalam kosa-kata resmi
               pemerintah sebagaimana dalam kutipan Pidato Kenegaraan



                   91  Ben White, op.cit., hal. 124.
                   92  Sajogyo mengakui bahwa ukuran ini tidak bersifat permanen. Dalam
               rentang waktu tertentu harus diubah seiring dengan angka populasi dan
               dikaitkannya dengan variable lain, tidak hanya unsur pendapatan. “Wawancara
               Sajogyo: ‘Ukuran Garis Kemiskinan yang Telah Dipakai 20 Tahun Harus
               Direvisi’", Tempo, Edisi 29, September, 1997.
                   93  Naskah Pidato Presiden, 16 Agustus 1984, Bab I, hal. I/9.
                                                                        165
   213   214   215   216   217   218   219   220   221   222   223