Page 220 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 220
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
Menggunakan garis kemiskinan Sajogyo, Anne Booth dan
Sundrum mengestimasi bahwa 61% penduduk pedesaan di Jawa
adalah miskin pada tahun 1970, dan 21% sisanya adalah miskin
sekali. Di perkotaan Jawa orang miskin sekali adalah 25%,
sedangkan di luar Jawa angkanya 21% di perkotaan dan 15% di
pedesaan.
Mengidentifikasi kemiskinan adalah hal yang rumit.
Berbagai cara mengukur, kepentingan, dan akibat yang akan
ditimbulkannya, turut mempengaruhi. Ada beberapa pengukuran
selain dari “Garis Kemiskinan Sajogyo” yang oleh banyak pakar
dinilai lebih berguna. 95
BPS telah membuat perhitungan kemiskinan sejak 1976.
Ukurannya didasarkan pada harga (cost) setara 2.100 kalori
untuk masyarakat desa dan kota, yang kemudian ditingkatkan
dengan variabel perumahan, bahan bakar, dan ketersediaan
kesehatan. Kritik terhadap pengukuran BPS ini adalah tentang
apakah cost itu cukup memadai diterapkan pada berbagai kera-
gaman sumber pangan yang ada di Indonesia, serta keraguan
akan rendahnya biaya yang dialokasikan untuk kebutuhan non-
pangan.
Pada tahun 1986, Prof. Hendra Esmara mengajukan alterna-
tif garis kemiskinan didasarkan pada sekelompok kebutuhan
dasar: pangan, pakaian, rumah, pendidikan, dan kesehatan.
Kesulitannya adalah asumsi kebutuhan ini berubah dari waktu ke
waktu dan adanya perbedaan antara desa dan kota. Keberatan
utama terhadap pemikiran Esmara ini terletak pada tingkat
dinamisnya pandangan terhadap kebutuhan dasar yang justru
berakibat menyamarkan arti kemiskinan.
Bank Dunia membuat satu studi pada tahun 1984 ber-
dasarkan konsumsi rumah tangga hasil survei Susenas. Dengan
cara sederhana Bank Dunia menyebut bahwa orang miskin
adalah mereka yang pengeluaran kebutuhan dasarnya kurang
dari 20% dari total pengeluaran rumah tangga. Kalkulasinya
95 Jonathan Rigg, Southeast Asia: The Human Landscape of Modernisation and
Development , (London: Routledge, 2003), hal. 95-96.
167

