Page 221 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 221
Ahmad Nashih Luthfi
berdasarkan interpretasi atas ketidakcukupan (inequality). Konsep
Bank Dunia ini semena-mena, juga lemah, sebagaimana konsep
Hendra Esmara yang justru menyamarkan kenyataan kemiski-
nan. 96
Dukungan dan penolakan terhadap konsep kemiskinan
Sajogyo ditandai dengan diterima atau ditolaknya estimasi angka
orang miskin yang tinggi, ketika konsep Sajogyo itu digunakan.
Dukungan dari Sritua Arif, misalnya. Dengan penghitungan
ekonometri tertentu, ia menyatakan bahwa angka 5 juta yang
miskin dari 8,8 juta keluarga petani yang disebut Sajogyo, nasib-
nya semakin buruk sebab pendapatan riilnya menurun dalam
upah yang dibayarkan dalam proyek-proyek inpres tahun 1971-
1974. Diambil rata-rata, pada tahun 1969-1976 jumlah orang
miskin meningkat 9% dengan jumlah riil 9,3 juta jiwa. 97
Kritik terhadap garis kemiskinan Sajogyo terutama disam-
paikan Anne Booth dan R. Sundrum (1980) yang menyatakan
terlalu tinggi angka yang diestimasikan. 98 Beberapa analis telah
mengkritik garis kemiskinan Sajogyo, namun tidak diragukan lagi
bahwa kemiskinan semakin meluas di berbagai tempat di
Indonesia pada tahun 1970-an, apapun konsep yang digunakan.
G. Kemiskinan: Antara “Kondisi” dan “Konsekuensi”
Dua istilah yang dianggap sensitif selama Orde Baru adalah
“kemiskinan” dan “Reforma Agraria”. Kedua istilah itu ternyata
erat kaitannya dengan lembaga Survei Agro Ekonomi, tempat
dimana Sajogyo berkarir dan menjadi ketuanya. Reforma Agraria
diusung kembali oleh SAE melalui pelaksanaan lokakarya di
Selabintana (1981). 99 Sedangkan kemunculan istilah “kemiski-
nan struktural” pertama kali dilontarkan oleh Ben White dalam
kongres ilmu sosial di Malang tahun 1978. Tesis itu dilontarkan
96 Ibid.
97 Sritua Arif, Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi, Disparitas Pendapatan, dan Ke-
miskinan Massal, (Jakarta: LSP, 1979), hal. 70 dan 77.
98 Dinyatakan lagi dalam Anne Booth, “Poverty and Inequality in the Soe-
harto Era: an Assessment”, BIES, Vol 36 No 1, April 2000, hal. 75-77.
99 Mengenai lokakarya ini diuraikan dalam bab berikutnya (Bab VI).
168

