Page 232 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 232

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               terjadinya involusi di pedesaan Jawa yang memberi gambaran
               tiadanya  proses  “komersialisasi”  dan  “moneterisasi”,  dan
               sebaliknya malah “bergerak ke dalam”. Berdasarkan Sensus
               Pertanian tahun 1963, Sajogyo menunjukkan bahwa kelompok
               petani yang mempunyai lahan di atas 0,5 ha (32% dari 7,8 juta
               petani) itulah yang mampu menjadi petani komersial. Mereka
               inilah yang mampu membeli pupuk, mengeluarkan biaya untuk
               tenaga buruh upahan, cukup atraktif dalam merespon “revolusi
               hijau” dengan berbagai input-nya. 120
                   Petani di pedesaan Jawa, dengan tingkat kepemilikan tanah
               yang berbeda-beda, tidak menampakkan homogenitas sosial dan
               ekonominya dengan cara shared poverty akan constant pie yang ada,
               sebagaimana dijelaskan Geertz. Namun ada kelompok yang
               dapat bergerak (keluar) secara dinamis, dan sebaliknya, ada ke-
               lompok yang bertahan dan bahkan membebani diri (ke dalam).
               Dengan ini Sajogyo hendak menjelaskan stratifikasi/kelas sosial
               pedesaan yang (di)luput(kan) dalam pengamatan Geertz.
                   Hasil kerjasama 4 lembaga dalam proyek PukLuTan ini
               melahirkan lembaga baru bernama Akatiga, pusat analisa sosial
               yang bertempat di Bandung. Akatiga terutama mewarisi aset-aset
               dari ISS yang untuk kepentingan ini, mendirikan kantornya di
               Bandung. Akatiga berkembang menjadi lembaga riset dengan
               tenaga-tenaga muda yang sebagiannya kemudian menempuh
               studi formal di ISS, Belanda.
                   Seusai penelitian PukLuTan inilah, pada tahun 1991 juga,
               Sajogyo mengakhiri jabatannya sebagai direktur PSP, dengan
               meninggalkan suatu evaluasi kritik mengenai pembangunan






                   120  Sajogyo, “Kata Pengantar: Pertanian, Landasan Tolak bagi Pengem-
               bangan Bangsa Indonesia”, dalam Clifford Geertz, Involusi Pertanian: Proses
               Perubahan Ekologi di Indonesia (Jakarta: Bhratara Karya Aksara, diterbitkan untuk
               LPSP-IPB dan Yayasan Obor, 1975), hal. xxiv. Ulasan mengenai hal ini lihat,
               Hiroyoshi Kano, “Pemilikan Tanah dan Diferensiasi Masyarakat Desa”, dalam
               Sediono M. P. Tjondronegoro dan Gunawan Wiradi, Dua Abad Penguasaan Tanah,
               Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa (Jakarta: YOI, 1984),
               hal. 237-238.
                                                                        179
   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237