Page 237 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 237

Ahmad Nashih Luthfi


               yang dipentingkan dalam kasus membangun body of knowledge
               sosiologi pedesaan di IPB ini adalah “imajinasi sosiologis” dan
               “metodologi”, dan bukan teori dalam pengertian tersebut. Sebab
               teori selalu bersifat “kontekstual” dan tidak pernah bersifat
               “reifikatif”, ada dalam bentuk materialnya.
                   Imajinasi sosiologis Sajogyo yang dicerminkan dalam studi
               Sosiologi IPB adalah menonjolkan pemikiran tentang “golongan
               lemah pedesaan”. Dengan kata lain, imajinasi yang berguna la-
               yaknya busur mengarahkan perhatian seorang ilmuwan/peneliti
               ke mana anak panah dibidikkan, penting artinya untuk menen-
               tukan apakah realitas tertentu menjadi terlihat atau tak terlihat,
               diketahui atau sengaja diabaikan untuk tidak diketahui (igno-
               rance). Realitas golongan lemah pedesaan itulah yang menjadi
               imajinasi sosiologi Sajogyo.
                   Sementara, pilihan cara kerja Sajogyo tercermin dalam kom-
               binasi empat ganda (combination of multiples): multiple theoretical
               perspective, multiple observers, multiple sources of data, dan multiple
               methodologies. 133  Pengalaman  mengkombinasikan  perspektif,
               peneliti, sumber data, dan metodologi ini sebenarnya lebih
               tampak dalam praktik penelitian di SAE dari pada di sosiologi
               pedesaan sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri. Sebab untuk
               yang terakhir, yang lebih mungkin dilakukan oleh para muridnya
               adalah menggunakan kombinasi berbagai metodologi (wawancara
               survei, participant observation, life histories, wawancara dengan
               pihak ketiga, dan lain-lain), dan kombinasi sumber data.
                   Kembali pada pertanyaan di depan, bagaimana dengan
               posisi sosiologi pedesaan IPB dalam melihat proses pembangu-
               nan? Melalui pengalaman Sajogyo, jika sosiologi yang dibangun-
               nya   adalah menempatkan peneliti sebagai pelaku di dalam
               melihat proses itu (emic) mencoba mencari metodologi yang
               relevan secara sosial sehingga dari situ bernilai relevan juga secara
               teoretis.  Dengan  demikian,  sebenarnya  ilmu  sosial  yang
               dikembangkan oleh Sajogyo adalah sebagaimana yang tersaji
               dalam kutipan pemetaan berikut.


                   133  Ibid., hal. 25.
               184
   232   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242