Page 242 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 242
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
nisasi dan nasionalisasi. Hal terakhir ini mengalami proses dan a-
rah yang bisa jadi berlainan. 139
L. Profil Ilmuwan Indonesia: Sebuah Tawaran
Sosok Prof. Dr. Ir. Sajogyo meneladankan pentingnya seo-
rang ilmuwan (Indonesia) untuk bisa berperan dalam beberapa
posisi berikut.
1. Bertindak sebagai ideological broker. Pemikiran-pemikiran
ilmuwan diharapkan bernilai otoritatif, mampu menyum-
bang gagasan-gagasan yang bernilai rintisan dalam
perkembangan keilmuwan di bidangnya, mendapat
perhatian kalangan ilmuwan lain baik yang mendukung
atau menolak. Meski ada aliran yang menyatakan bahwa
ide tidak harus “bermanfaat secara langsung” terhadap
masyarakatnya, Sajogyo tidaklah seturut dengan pemaha-
man itu. Dengan kata lain, pemikirannya sedapat
mungkin berkontribusi dan “relevan secara teoretis”
dan/atau “relevan secara sosial”.
Selama ini, sikap ilmiah yang dinilai belum
tertradisikan di Indonesia tersebut disebabkan oleh
keadaannya yang “kurang elitis,” sehingga tidak pernah
menjadi relevan, dan akumulatif secara teoretis. Perkem-
bangannya lebih ditentukan oleh perumusan masalah
secara praktis/birokratis. Atau bisa juga sebaliknya,
perumusan masalahnya “tidak realistis” karena hanya
untuk memenuhi “gugurnya kewajiban” dari lembaga,
baik pemerintah ataupun kampus, dan lainnya.
2. Pintar mencari dana. Sebab minimnya perhatian negara
dalam dunia ilmiah Indonesia, para ilmuwan merasa
harus mencari dana dari sumber-sumber lain untuk
membiayai kegiatan ilmiahnya. Ilmuwan kampus/lem-
139 Proses Indonesianisasi ini dinyatakan langsung oleh Sajogyo dalam
suratnya dengan gaya bertanya kepada penulis, “Benarkah proses ‘Indo-
nesianisasi’ dan ‘nasionalisasi’ hanya pada kajian sejarah Indonesia? (Jika benar,
keliru bicara hal ‘Mazhab Bogor’ [dalam] sosiologi pedesaan)”, surat tertanggal,
24 Mei, 2007.
189

