Page 244 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 244
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
gaga-sannya, mangkumulasikannya secara terus menerus.
Kedua, apa yang “cemerlang” sebagai gagasan (teoretis)
tidak bersambut, terumahkan, dapat disebabkan karena
secara sosial dan terutama politik, ia tidak memungkin-
kan untuk diterima (socially and politically insensible).
Berbagai tipe ilmuwan Indonesia setidaknya mewakili
kategori di atas. Ada ilmuwan yang “soliter” dari hiruk pikuk
dunia publik namun diakui oleh khalayak ilmiah. Jarang yang
bisa seperti ini. Yang sering terjadi adalah “ilmuwan publik”
dengan sedikit melakukan riset (teoretis) namun segera di/ter-
tarik ke dunia publik. Ada juga “ilmuwan proyek” yang
menerima pesanan dari berbagai sumber. Meski project-nya
berada dalam “kerangka kegiatan ilmiah”, namun karena tidak
berangkat dari permasalahan teoretis dan tidak diarahkan untuk
membangun ke arah itu, maka “project ilmiah” tersebut tidak
pernah tuntas. Akibatnya, hanya meninggalkan kesan bahwa
proyek itu berfungsi survival. Terakhir adalah “ilmuwan birokrat”.
Di saat “kegiatan ilmiah” belum terpisahkan dengan “kegiatan
birokrasi” yang seharusnya berfungsi sebagai supporting system,
maka seorang ilmuwan dituntut untuk dapat melakukan
keduanya. Ironisnya, ketenaran dan otoritasnya dinilai menjadi
lebih kuat ketika ia menempati posisi birokrasi ini.
Gabungan ketiganya adalah tipe ideal ilmuwan yang
dibutuhkan di Indonesia. Dengan memenuhi tiga posisi di atas,
dijamin “krisis generasi penerus” tidak akan terjadi. Tipe di atas
dapat digunakan untuk membaca mereka, ilmuwan yang ada di
kampus, pusat studi, LSM, atau di manapun. Dengan terus-
menerus menanyakan pada diri sendiri, untuk siapa para
ilmuwan itu menulis-meneliti, menyadari bahwa-klaim-klaim
netralitas ilmunya berada dalam konteks dan suasana tertentu,
maka semestinyalah kritik diri terus menerus dilakukan. Sudah
menjadi aksioma, bahwa ilmu pengetahuan bekerja dengan cara
demikian.
191

