Page 243 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 243
Ahmad Nashih Luthfi
baga riset yang tidak pintar mencari dana untuk
membiayai kegiatan ilmiahnya beresiko menikmati status
quo-nya sebagai pegawai (PNS) dengan kegiatan rutin
mereka. Jika tidak berangkat dengan dukungan teoretis
yang memadai dan upaya untuk memecahkan problem
sosial (setempat) yang ada, maka resiko yang menghantui
adalah, “kekuatan kapital” dari pemesan (swasta, perse-
orangan, maupun pemerintah) dapat menentukan arah
kegiatan ilmiah yang akhirnya hanya akan berfungsi
sebagai alat legitimasi mereka. Ketidakmampuan mem-
pergulatkan teori dengan realitas lokal akan beresiko
menjadikan kegiatan ilmu sosial sebagai perpanjangan
tangan belaka (mengekor) dari tren teori ilmu sosial yang
sedang berkembang di luar (Barat), baik yang dibawa o-
leh lembaga donor maupun lainnya.
Peluang mempergulatkan temuan-temuan ilmiah
secara terus-menerus bagi kalangan akademis jauh lebih
mungkin dilakukan dibanding dengan mereka yang ada
di lembaga LSM. Ditambah lagi selalu hadirnya mahasis-
wa (baru) di kampus akan siap menjadi “forum baru” ba-
gi dinamika intelektual dan mem-bola-salju-kan kegiatan
ilmiahnya. Sementara ilmuwan LSM sulit membayang-
kan “forumnya”. Kegiatan mereka yang umumnya dija-
lankan secara by project terancam tidak terakumulasi dan
terarah.
3. Pengorganisasi yang baik. Riset, seminar, pertemuan ilmiah,
penulisan buku, dan lain-lain, adalah bukti bahwa seo-
rang ilmu-wan mampu mengorganisasi gagasan-gagasan
dan menjadikannya sebagai aktivitas bersama khalayak
ilmiah, sekaligus menguji keterandalan dalam penge-
lolaan dana yang diperolehnya. Barangkali terdapat gaga-
san seorang ilmuwan yang cemerlang, namun pemikiran-
nya menjadi tidak dikenal dan hilang begitu saja sepen-
dek usia yang dikandung raga.
Dua kemungkinan hal di atas menjadi sebabnya.
Pertama, karena ia tidak pandai (lalai) mengorganisasikan
190

