Page 240 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 240

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               Agar bisa menjalankan tujuan semacam itu, maka ilmu harus
               bersifat kritis (8) baik terhadap ilmu dan ilmuwannya itu sendiri
               (kritik teori). Selain itu, ilmu yang bertujuan pembebasan dan
               berorientasi hadap masalah disertai pemecahannya, menuntut
               sikap saling mengemansipasi dari aktor-aktor yang terlibat (7).
               Emanispasi adalah tindakan/praktek kekuasaan (6). Hal terakhir
               inilah yang sulit dilakukan dan jarang disadari dalam komunitas
               ilmiah maupun para pengambil kebijakan. Secara singkat, hal
               terakhir diistilahkan sendiri oleh Sajogyo sebagai Kaji Tindak
               Partisipatif (KTP), Indonesianisasi dari kata Participatory Action
               Research (PAR).
                   Jenis riset PAR semacam ini disadari betapa sulitnya
               dilakukan. Hingga saat ini, ia selalu mengingatkan perlunya
               saling kepercayaan satu pihak dengan lainnya dalam upaya
               melakukan PAR. Menutup tulisannya tahun 2009, ia menga-
               takan, “Tapi dapat dicatat, bahwa bagi masing-masing pihak
               yang terlibat dalam kegiatan itu tantangannya memang berat.
               Apalagi dalam kerangka suatu kegiatan ‘kaji-tindak’ (action
               research)”. 137
                   Sifat Kaji Tindak Partisipatif inilah yang banyak meng-
               inspirasi kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), satu is-
               tilah yang juga dilahirkan oleh Sajogyo pada tahun 1970-an ke-
               tika saat itu banyak yang masih menggunakan istilah Non-Govern-
               ment Organization. 138  Meski demikian, hingga saat ini masih ba-
               nyak LSM yang mengambil posisi action-nya langsung ke ma-
               syarakat, lebih sempit lagi ada kecenderungan anti-negara, tanpa
               disertai dengan research yang memadai sehingga terkesan naif dan
               bergerak tanpa kritik. Jika mereka tidak sabar menjalaninya dan



                   137  Sajogyo, “Desaku, Desa Kalian, Desa Kita”, esai yang disiapkan untuk
               acara penganugerahan Bakrie Award 2009, hal. 10.
                   138  Ketokohan Sajogyo dalam LSM, atau sebelumnya dikenal dengan
               Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM), istilah asli dari Sajogyo,
               diakui oleh salah satu tokohnya yang telah berkecimpung selama lebih dari 42
               tahun, Bambang Ismawan (Bina Swadaya). Lihat, “70 Tahun Bambang Ismawan;
               ‘Kesetiaanlah Satu-satunya yang Saya Miliki dan Pertahankan’", Kompas, 8
               Maret, 2008.

                                                                        187
   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245