Page 239 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 239
Ahmad Nashih Luthfi
ke tahun dalam memberi kata pengantar buku Involusi Pertanian.
Penguasaannya terhadap metode etnografi dan cara kerja antro-
pologi lainnya, menjadikan jenis ilmunya adalah humaniora (5).
Data-data statistiknya tidak untuk menempatkan kemiskinan
dan orang miskin sebagai sesuatu yang dapat diukur, ditunjuk,
namun bisa ditemukan dalam realitasnya dan dipahami sebab-
sebabnya.
Dalam studi Cibodas dan studi lainnya tentang agraria
dan kemiskinan (peasant studies) meniscayakannya pada kesadar-
an penguasaan sumber-sumber produksi sebagai basis pengelom-
pokan sosial. Hubungan satu kelompok/golongan dengan lainnya
di masyarakat berada dalam relasi kekuasaan ekonomi dan po-
litik, sehingga dalam menganalisanya (10) tidak hanya diperlu-
kan ilmu sosiologi, namun juga ekonomi dan politik (9). 135
Meski pendekatan ekonomi politik dijauhi dan perspektif
Marxian absen dalam sejarah ilmu sosial Indonesia pada periode
1970-an, namun dengan mempertanyakan aspek penguasaan alat
produksi (sumber-sumber agraria) serta dilengkapi dengan ima-
jinasi sosiologis yang kukuh. Sajogyo berhasil terbebas dari jeba-
kan ilmu sosial yang berorientasi struktural fungsional, pragmatis
dengan tuntutan-tuntutan aplikatif pembangunannya, namun
berusaha kritis agar tidak berfungsi melegitimasi kekuasaan
(negara) belaka.
Dari kerja ilmiah Sajogyo, pengetahuan diarahkan untuk
melakukan perubahan. Sosiologi terapan yang tercermin dalam
pernyataan “sampaimana” mengarahkan agar ilmu mampu mem-
bebaskan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ilmu bertujuan
pembebasan kesadaran (11). Dalam istilah lain adalah ngelmu iku
kalakone kanthi laku. Ilmu sejati adalah ilmu yang cocok dengan
realita, bukan karena ia berkesuaian dengan teori tertentu. 136
135 Sebagaimana pentahbisan Mubyarto terhadap Sajogyo sebagai “Bapak
Ekonomi-Sosilogi Indonesia”. Lihat, Mubyarto, “Prof Sajogyo: Sosiolog yang
Ekonom, atau Bapak Ekonomi-Sosilogi Indonesia”, dalam Mubyarto dkk. (ed),
1996, op.cit., hal. 10-20. Juga semboyan Sajogyo yang terkenal, sebagaimana telah
dikutip dalam catatan kaki no. 9.
136 Pernyataan dari Francis Wahono, loc.cit.
186

