Page 249 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 249
Ahmad Nashih Luthfi
masuk kelas I, Gunawan Wiradi sudah bisa menulis di kartu pos
karena dididik sendiri oleh pamannya di rumah, sehingga ketika
disuruh menulis seperti kawannya yang lain, ia agak memban-
del. 6
Bertahan hanya tiga bulan di sekolah itu, Gunawan Wiradi
terpaksa putus sekolah. Ibunya tidak lagi mampu membiayainya.
Uang sebesar 4 gulden harus diserahkannya setiap bulan ke seko-
lah. Tentu saja ini berat. Sementara, harga beras saat itu kurang
dari lima sen per liter. Sang ibu lantas berusaha mencari bantuan
kesana-kemari, terutama pada beberapa keluarga tetangga dekat-
nya.
Dalam kekalutan itu, datanglah seorang paman, Soewito
Kusumowidagdo. Ketika itu sang paman sedang belajar di Seko-
lah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ia meminta kakaknya agar tak
usah mencari bantuan kemana-mana. Si bungsu ini hendak didi-
dik sendiri olehnya di rumah (Solo). Meski sang paman tidak da-
pat menjanjikan untuk mengajar secara bersinambung, melain-
kan hanya sewaktu-waktu ketika ia pulang liburan, tawaran ini
dinilai lebih baik. 7
Satu setengah tahun kemudian Gunawan Wiradi dimasuk-
kan lagi ke sekolah, namun umurnya sudah lebih dari 7 tahun.
Maka tanggal lahirnya lalu di-“muda”-kan, 26 Maret 1934,
tanggal sebagaimana yang tercantum di KTP sekarang. Sewaktu
masa pendidikan di rumah, sang paman memberi pelajaran mem-
baca, menulis, berhitung, bahasa Belanda, dan menyuruh si
bungsu menghafalkan delapan kata-kata bahasa Inggris, baik tuli-
sannya maupun pengucapannya. Si bungsu hanya bengong kare-
na tak paham apa tujuannya, bahkan ketika delapan kata itu su-
dah dirangkai sekalipun. Rangkaian delapan kata-kata itu adalah
“Laugh! And the world laughs with you. Weep! And you weep alone!”. 8
Ketika si bungsu kecil itu mendesak pamannya agar men-
jelaskan apa maksudnya, maka dengan kalimat yang menusuk
6 Wawancara Noer Fauzi dan Ratna Saptari dengan Gunawan Wiradi,
Leiden, 13 Februari, 2005.
7 Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 28 Februari, 2009.
8 Endang Suhendar, op.cit., hal. Xiii.
196

