Page 251 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 251
Ahmad Nashih Luthfi
Di kota Solo dia masuk ke sebuah HIS swasta, “Sekolah
Arjuna”. Gunawan Wiradi merasa sekolah ini berbeda, suatu
sekolah yang di kemudian hari disadarinya sebagai sekolah perju-
angan. Di situ murid-muridnya dididik dan digembleng, dibang-
kitkan semangatnya. Cerita wayang dijadikan semacam “kitab
suci” sebagai landasan moralnya. Dari cerita itu pula Gunawan
Wiradi kecil yang saat itu duduk di kelas 3 SD, mulai mengenal
suatu peristiwa, yang jauh di kemudian hari dikenal sebagai
“konflik agraria”. Suatu cerita dari dunia pewayangan: Bomana-
rakasura, putera Sri Kresna, berhadapan dengan Gatotkaca, pute-
ra Bima. Mereka saling mengklaim berebut wilayah. Di sinilah
Gunawan Wiradi melihat, Sri Kresna tampil sebagai penengah,
semacam “LBH” yang “independen”. 11
Sekolah Arjuna (Ardjoena-Scholen) adalah bentukan kelom-
pok perkumpulan theosofi. Ada beberapa Sekolah Arjuna yang
didirikan Nederlandsch Indische Theosofische Bond voor Opvoeding en
Onderwijs (NITBOO) atau Perkumpulan Theosofi Hindia Be-
landa untuk Pendidikan dan Pengajaran. Sekolah Arjuna di Sura-
karta adalah yang pertama, lalu didirikan juga di Bogor, Ban-
dung, tiga buah di Jakarta (Jatinegara, Gang Paseban, dan Peto-
jo), dan di Prambanan, Klaten. 12 Arjuna dipilih sebagai figur ideal
oleh para pengikut theosofi.
Sekolah Arjuna tidak serta merta beraliran progresif
sebagaimana diingat Gunawan Wiradi. Berbeda dengan sekolah
Taman Siswa yang bersifat self help dan paham kemerdekaannya,
Sekolah Arjuna awalnya cukup dekat dengan pemerintah dan
bersifat kooperatif sehingga menginginkan perubahan secara
evolutif, sebagaimana aliran dalam theosofi itu sendiri. 13
Dalam fase selanjutnyalah Sekolah Arjuna menjadi tempat
tumbuhnya ide-ide kebangsaan yang memiliki kualitas ksatria
dan mengarah pada gerakan nasionalisme non-kooperatif. 14 Dari
11 Endang Suhendar, op.cit., hal. xiv.
12 Iskandar P. Nugraha, Mengikis Batas Timur dan Barat, Gerakan Theosofi dan
Nasionalisme Indonesia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2001), hal. 83.
13 Ibid., hal. 85.
14 Ibid., hal. 156.
198

