Page 253 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 253
Ahmad Nashih Luthfi
Wiradi dengan kedua kawannya sedang bermain di Singosaren,
Solo. Mereka bertiga melihat ada pencopetan yang menimpa
seorang tua. Pencopetnya berbadan besar, sementara mereka ini
adalah anak usia SD sehingga tidak kuasa menolong. Atas
tindakan ini, mereka terkena hukuman dari seorang guru yang
kebetulan lewat di tempat itu sebab dinilai tidak menjalankan
ajaran Arjuna. 18
Meletus Perang Dunia II di Indonesia, Belanda menyerah
kepada bala tentara Jepang. Surakarta dalam suasana perang,
maka untuk sementara waktu sekolah ditutup. Sekitar enam bu-
lan kemudian barulah sekolah dibuka kembali. Gunawan Wiradi
tetap di Sekolah Arjuna. Namun sebelum sekolahnya selesai,
Jepang menyerah kepada Sekutu, dan berakhir pula PD II.
Disusul masa revolusi Indonesia, sekolah tutup kembali untuk
sementara.
Secara umum, sudah dikenal bahwa masa pendudukan
Jepang adalah masa suram. Rakyat kelaparan. Pakaian compang-
camping. Bahkan di banyak tempat, karung goni dan lembaran
karet digunakan sebagai bahan pakaian. Wabah penyakit
merajalela, sementara obat-obatan sangat langka. Dalam kondisi
semacam ini, Gunawan Wiradi kecil pernah mengalami operasi
tumor tanpa bius. Untuk memperoleh beras, rakyat harus antri
untuk mendapat penjatahan. Namun dari semuanya itu, satu hal
layak dicatat: uang sekolah relatif murah! 19
Pada masa Jepang ini, Gunawan Wiradi pernah membantu
pamannya yang menjadi kumicho (Ketua RT) membagikan katul
(bekatul--Ind) 20 kepada warga. Per keluarga yang tinggal di kota
dibagi 1 liter. Saat itu banyak orang terkena penyakit beri-beri.
Diyakini bahwa dalam katul terdapat kandungan vitamin B yang
berkhasiat menyembuhkan penyakit itu. Katul-katul itu diperoleh
dari pedagang beras. 21
18 Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 5 Mei 2008.
19 Endang Suhendar, op.cit., hal. xiv
20 Katul adalah bubuk halus sisa beras yang ditumbuk atau di-sosoh;
merupakan makanan yang banyak dikonsumsi pada masa pendudukan Jepang.
21 Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 5 Mei 2008
200

