Page 255 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 255

Ahmad Nashih Luthfi


               1948 ketika perjanjian Renville ditandatangani pada 17 Januari
               1948.
                   Pada tahun 1948 ini Gunawan Wiradi telah duduk di kelas
               2 SMP I. Bulan Agustus 1948 ia naik ke kelas 3. Belum sampai
               sebulan, meletuslah peristiwa Madiun pada pertengahan Septem-
               ber. Mengenai peristiwa Madiun ini, Gunawan Wiradi memiliki
               kesaksian terkait dengan pengalaman masa kecilnya di Solo,
                   “Waktu saya dikenalkan dengan Onghokham, [saya ceritakan
                   masalah ini] gak percaya dia. Karena ada sejarawan yang pokoknya
                   harus ada dokumen. …Jadi letusan pertama 13 September di Kota
                   Solo, [ini] belum pemberontakan di Madiun. Saya masih kelas 2
                   SMP, saya sama ibu saya mau ke Colomadu, waktu itu transportasi
                   Colomadu pake lori tebu yang dikasih dinding, makanya disebut
                   monting, karena lokomotifnya berbunyi ‘ting-ting-ting’. Saya dari
                   Gandhekan, Kusumodiningratan dekat Pasar Kembang Solo, jalan
                   kaki ke Manahan lewat Srambatan, selatan Stasiun Balapan. Di
                   dok (?) ada asrama Siliwangi. Entah apa, yang saya saksikan tiba-
                   tiba ada ‘der der der!’, saya masuk selokan sama ibu saya.” 23

                   Kesaksian pribadi ini menurut Gunawan Wiradi, ketika
               dicerikatakannya kepada Onghokham, tidak lantas dipercayai. Ia
               melanjutkan,


                   “Ong bilang, ‘Ah gak, tidak pernah ada peristiwa itu’. Padahal itu
                   peristiwa jelas rentetan sebelum Madiun. Karena sebelum itu ada
                   penculikan-penculikan anak buahnya Slamet Riyadi, yang dituduh
                   menculik Siliwangi. Siliwangi kan hijrah ke Jateng. Salah satu
                   satuan Siliwangi itu ada yang di selatan pojokan Balapan. Nah, sa-
                   ling ultimatum, nyulik, tidak, nyulik, tidak. Slamet Riyadi masih di
                   front, dia turun kemudian ikut. Tahu-tahu Bung Hatta mengumum-
                   kan itu pemberontakan, kirim Siliwangi ke Solo. Slamet Riyadi
                   [berpandangan], kalau ini dibiarkan, perang di kota, kasihan pen-
                   duduk. [Lalu] Slamet Riyadi mundur”. 24

                   Penting   membandingkan    kesaksian  pribadi  Gunawan
               Wiradi ini dengan beberapa narasi lain. Secara singkat, peristiwa
               Madiun adalah “pemberontakan” yang dilakukan oleh kaum
               komunis yang hendak mendirikan pemerintahan dengan gaya



                   23  Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Yogyakarta, 10 Agustus 2009.
                   24  Ibid.
               202
   250   251   252   253   254   255   256   257   258   259   260