Page 258 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 258

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               hanya disuruh menimba air sumur untuk mandi tentara Belanda,
               setelah itu ia dilepas.
                   Gunawan Wiradi muda kemudian turut ke luar kota meng-
               ikuti “kakak-kakak”-nya yang Tentara Pelajar (TP). Ia diberi
               pistol dan diserahi tugas memberi tanda sewaktu-waktu jika tank
               Belanda datang. Namun belum sampai tiga bulan berada bersa-
               ma mereka, ia dijemput oleh ibunya untuk kembali ke kota. Sang
               Ibu tidak ingin lagi kehilangan anak lelaki yang tinggal satu-
               satunya. Di kota, ia tetap diberi tugas oleh “kakak-kakak” TP itu,
               menulis di tembok-tembok keraton atau sekolah. Misalkan, me-
               nempel plakat “Kalau sekolah ini tidak ditutup, maka guru-guru
               akan digantung”. Atau juga menulisi tembok-tembok kota,
               “Hollandsche Studenten, keert naar je land terug, om verder te studeren.
               Wij kunnen onze land zelf bewaren”. 30  Kata-kata ini ditujukan
               kepada tentara milisi Belanda yang kebanyakan berasal dari
               pelajar.
                   Meskipun kota Solo diduduki tentara Belanda, tetapi secara
               diam-diam sejumlah guru yang tetap setia kepada RI (dan tidak
               menyeberang menjadi pegawai Belanda) mendirikan “SMP Geri-
               lya” yang tempatnya berpindah-pindah. Gunawan Wiradi masuk
               ke sekolah itu. Setelah perang berakhir, sekolah ini menjadi SMP
               III.
                   Agustus 1949 perang gerilya berakhir, dan sekolah dibuka
               kembali. Tetapi sekolah baru berjalan secara normal sejak Januari
               1950. Agustus 1950 Gunawan Wiradi tamat dari SMP dan
               masuk ke SMA Negeri di Solo. Suasana euforia kebebasan setelah
               perang selesai meliputi seluruh masyarakat. Gunawan Wiradi
               mulai mengalami masa belajar di sekolah secara lebih baik. Dan
               tentu saja, sambil berpacaran!
                   Pada masa kolonial Belanda, jumlah SMA di Indonesia tidak
               mencapai 10 buah, dan hampir semuanya ada di Pulau Jawa.
               Waktu itu namanya Algemeen Middlebare School (AMS). Jurusan-
               nya hanya dua dan disebut sebagai “Bagian A” dan “Bagian B”.

                   30  Ungkapan berbahasa Belanda ini kurang lebih berarti, “Hai para
               mahasiswa Belanda, pulanglah ke negerimu untuk melanjutkan sekolah. Kami
               dapat menjaga sendiri tanah air kami!”. Ibid.
                                                                        205
   253   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263