Page 262 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 262

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


                   “Mahasiswa ingin melanjutkan, menindaklanjuti apa yang sudah
                   dirintis oleh senior-senior di tingkat negara. Oleh karena itu, Kon-
                   ferensi Asia Afrika itu tahun ‘56, tidak tahun ’55, ‘55 itu yang ne-
                   gara….”. 35
                   KMAA berangkat dari kesadaran platform bersama untuk
               membina hubungan internasional antara negara-negara yang baru
               mencapai kemerdekaan. Semangat semacam ini terasa sekali dan
               memberi implikasi internal pada organisasi-organisasi mahasiswa
               Indonesia. Ia melanjutkan,

                   “Waktu menyambut Konferensi Mahasiswa Asia Afrika, pidato
                   Bung Karno mengatakan begini, ‘Saya sekarang belum tahu pasti,
                   mana yang lebih penting Konferensi Asia Afrika yang dilakukan
                   pemerintah, atau Konferensi Mahasiwa’. Gitu. Anu, Bung Karno
                   bilang, yang dimaksud, semua, semua mahasiswa bisa bersatu untuk
                   revolusioner, untuk revolusioner. Bukan sekedar bersatu. Gitu. Itu
                   yang dimaksud.
                   …salah satunya, tokoh yang survive dalam arti dia tetap diterima
                   dan menempati posisi zaman Orde Baru, Emil Salim, mewakili
                   Gemsos. Ia menjadi wakil ketua delegasi [Indonesia], sementara
                   ketua delegasinya perempuan, Nini Karim”.
                   Gunawan Wiradi perlu menjelaskan keterlibatan Emil Salim
               dalam KMAA dan posisinya dalam pemerintahan Orde Baru. Hal
               ini karena pelaksanaan KMAA dan KAA dalam wacana Orde
               Baru direduksi sebagai produk pemerintahan Soekarno. Dengan
               sendirinya, kongres yang bersifat multilateral dengan sikap anti-
               imperialisme dan cita-cita menuju tatanan dunia baru yang non-
               sektarian, justru diasosiasikan komunis, atau setidak-tidaknya ki-
               ri. Tidak aneh jika nama Nini Karim sebagai ketua delegasinya
               kemudian tidak pernah muncul kembali pada masa Orde Baru,
               dan semangat KAA memudar, hanya menyisakan nama jalan
               yang ramai.

                   “Dalam Panitia Persiapan Nasional Konferensi Mahasiswa Asia
                   Afrika tahun 1956, ketua dari HMI Agustin Aminuddin, progresif
                   ini. Wakil Ketua I CMB Bandung, sekjennya AY. Gultom (GMKI).
                   Banyak yang ditahan karena Orba menganggap gerakan Asia Afrika

                   35  Wawancara Noer Fauzi dan Ratna Saptari dengan Gunawan Wiradi,
               Leiden, 13 Februari 2005.

                                                                       209
   257   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267