Page 267 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 267
Ahmad Nashih Luthfi
karno saat itu. Pelaku peristiwa itu bersikap self-fulfilling saja atas
argumen Orde Baru ini.
Selama menjadi ketua senat, Gunawan Wiradi berkeanggo-
taan ganda dalam organisasi ekstra, yakni menjadi anggota
GMNI dan CGMI. Pada tahun 1963 ketika berlangsung kongres
GMNI di Kaliurang, ia diminta memilih antara GMNI ataukah
CGMI. Ini dilakukan setelah adanya peraturan yang tidak mem-
perbolehkan rangkap keanggotaan organisasi. Sebelumnya rang-
kap keanggotaan hal yang biasa, HMI sekaligus CGMI ataupun
GMNI. Gunawan Wiradi tidak mau memilih dan beralasan, “Sa-
ya sudah lulus kuliah maka sudah bukan anggota apa-apa. Dalam
Anggaran Dasar, otomatis ketika anak ini sudah lulus, maka
tidak menjadi anggota lagi. Untuk apa milih, wong saya sudah
lulus”. 45 Alasan ini oleh kawan-kawannya saat itu dinilai bahwa
Gunawan Wiradi emoh meninggalkan keduanya.
Sejak menjadi Ketua Umum Senat, Gunawan Wiradi menik-
mati beberapa keistimewaan: memiliki kantor yang dilengkapi
dengan meja dan telpon khusus, diundang hadir dalam acara
kenegaraan yang diselenggarakan di Istana Bogor (ketika me-
nyambut Presiden Ho Chin Min), dan ketenaran di kalangan
mahasiwa. Meski demikian, karir studinya terhambat. Sebab
menjadi senat itu pula dan terafiliasinya ia dalam organisasi eks-
tra CGMI, dalam perjalanan hidup selanjutnya ia mengalami rin-
tangan berat. Ia menjelaskan,
“ [Akibat peristiwa 1965] saya di-screening 4 kali: IPB, Deptan,
CPM. Setiap kali screening selalu ditanya, ‘Kamu diangkat sebagai
ketua senat kan utusan CGMI’. Padahal saya dipilih saat tidak di
Bogor. Waktu saya diperiksa kedua kali dari tim Jakarta, ada
seorang kolonel wanita. Itu lebih hati-hati. Kolonel polisi mendesak
agar saya mengatakan bahwa si A menjadi anggota senat karena
utusan CGMI. Saya bilang tidak. Dia menggebrak. Saya meng-
gebrak balik dan lebih keras. Saya bilang, saya yang menjadi ketua-
nya! Semua kaget. Laksamana Musa yang ada di situ terus menga-
takan, ‘Sabar, Mas’. Ibu itu yang terus screening tiap tahun. Waktu
akan studi ke Malaysia saya juga di-screening. Waktu itu orang IPB
45 Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 25 Juli 2008.
214

