Page 272 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 272
Melacak Sejarah Pemikiran Agraria
lima tahun (1956-1961), ia mengajar di sebuah SMA swasta di
Bogor, SMA Wisnu.
Di sekolah itu awalnya Gunawan Wiradi menggantikan se-
orang kawan yang sakit untuk mengajar bahasa Inggris. Selanjut-
nya ia diminta pihak sekolah mengajar beberapa bidang: aljabar,
kimia, dan tata negara. Pernah dalam satu minggu ia mengajar
sampai 36 jam hingga mengakibatkan ia sakit. Per jam mengajar
ia digaji 3-5 rupiah, suatu jumlah yang lumayan bila dibanding-
kan harga kemeja yang saat itu Rp. 2,5. Beasiswa yang diterima-
nya dari pemerintah pada awalnya cukup besar, Rp. 250. Akan
tetapi ketika mulai terjadi inflasi, harga-harga pun naik melebihi
jumlah yang dapat ditanggungnya dari uang beasiswa. Maka ia
memutuskan bekerja mengajar selain juga secara insidental
menjadi buruh lepas di pabrik ban Good Year. 58
Ketika masih mahasiswa, tahun 1961-1962, Gunawan Wira-
di diminta oleh Staf Penguasa Perang Tertinggi (KOTI) untuk
menjadi anggota Tim Penulis tentang Irian Barat. Buku yang
ditulisnya kemudian terbit dengan judul Mengenal sebagian dari
Tanah Air Kita Irian Barat. Buku ini berisi pengenalan tentang
pertanian, peternakan, dan kehutanan. Bersama peta Irian Barat
dan sebuah buku tentang pertambangan terbitan ITB, buku ini
dimasukkan ke dalam sebuah tas untuk dibekalkan ke setiap
prajurit TNI yang bertugas dalam misi “Pembebasan Irian Barat”.
Diharapkan melalui buku itu prajurit TNI dapat survival selama
menjalankan tugas di medan perang. Atas kontribusinya ini
Gunawan Wiradi mendapat anugerah Bintang Satya Lencana
dari Presiden Soekarno, meskipun tanda penghargaan ini tidak
sempat dilihat dan apalagi diterimanya sebab terlanjur terjadi
pergantian rezim.
“Atas jasa ini, saya mendapat radio transistor, tetapi saya jual
untuk membeli cincin. Teman-teman penulis lain diberangkatkan
ke Irian Barat, sebab ‘menyogok’ ke KOTI, membawa buah-buahan
dan sebagainya. Sedangkan saya tidak. Saya menulis Irian tetapi
tidak pernah ke sana, baru tahun 1995 bisa pergi ke Irian”. 59
58 Wawancara dengan Gunawan Wiradi, Bogor, 25 Juli 2008.
59 Ibid.
219

