Page 274 - Melacak Sejarah Pemikiran Agraria Indonesia Sumbangan Pemikiran Mazhab Bogor
P. 274

Melacak Sejarah Pemikiran Agraria


               (the role of property) yang menjadi kunci dari keberhasilan
               landreform. Landreform sukses dijalankan dengan cara terpadu
               melalui dukungan lurah, Sumotirto, dan seorang petani kaya
               yang justru tanahnya menjadi sasaran obyek redistribusi, “…the
               ex-Congkok Tirtosumo, wealthy though he was, supported the Lurah.
               He wanted to show to the people that he was willing to release part of his
               lands for the sake of the landless”. Namun demikian, bukan berarti
               kebijakan landreform tidak mendapatkan tantangan. “Martosudar-
               no was a relatively wealthy farmer. Though his position of opposing the
               Lurah's proposal may be motivated by his unwillingness of letting part of
               his lands to be substracted”. 61
                   Pengalaman melakukan penelitian skripsi itu dikisahkan
               ulang oleh Gunawan Wiradi dengan mencatat beberapa hal yang
               dianggapnya memberi pemahaman bagaimana semestinya mela-
               kukan penelitian di masyarakat tani. Di antaranya adalah pema-
               haman pentingnya kepekaan dalam memilih tempat menginap,
               memahami ritme kerja petani dan kapan waktu yang tepat me-
               wawancarai mereka, tidak mencatat di hadapan mereka. Lebih
               penting dari itu adalah pemahaman yang kemudian menjadi icon
               dari Gunawan Wiradi, yakni landreform by leverage, reforma agra-
               ria dengan cara didongkrak dari bawah hanya akan mungkin jika
               ada kepemimpinan yang kuat dan pengorganisasian yang rapi.
                   Saat itu, literatur amat terbatas, apalagi yang menyangkut
               masalah metode pengumpulan data. Hanya dengan bekal “rasa
               ingin tahu” (curiosity) yang kuat, Gunawan Wiradi melakukan
               improvisasi sendiri di lapangan. 62  Inilah pengalaman kedua yang
               mengawali ketertarikannya pada persoalan agraria, lebih menge-
               rucut lagi pada isu landreform.





                   61  Gunawan Wiradi, “Land Reform in a Javanese Village: Ngandagan”, AES-
               RDS. Occational Paper, No. 4, 1981, (versi bahasa Inggris dari skripsi 1961), hal.
               32.
                   62  Mengenai masalah keterbatasan dan improvisasi ini lihat, Gunawan
               Wiradi, “Penelitian Empiris Mengenai ‘Struktur Kekuasaan dalam Masyarakat
               Pedesaan: Belajar dari Pengalaman, Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin KRITIS,
               No. 4, Tahun VII, UKSW, 1993.
                                                                        221
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279